swanvara

Kata-kata

Kata-kata Sungkeman Pernikahan: Contoh Bahasa Indonesia, Jawa Krama, dan Sunda Lemes beserta Jawaban Orang Tua

Kata-kata sungkeman pernikahan dalam bahasa Indonesia, Jawa krama, dan Sunda lemes beserta artinya, plus jawaban yang biasanya diberikan orang tua.

Tim Swanvara
Daftar isi(9)

Kata-kata sungkeman, dalam praktiknya, berupa tiga hal pendek yang diucapkan sambil bersimpuh di depan orang tua: permintaan maaf, ucapan terima kasih, dan permohonan restu. Tidak ada naskah baku yang wajib dihafal, dan kalimat yang paling diingat orang tua biasanya yang paling sederhana.

Bayangkan kalian sudah duduk bersimpuh. Musik gamelan atau selawat mengecil, MC berhenti bicara, dan semua mata tertuju pada kalian berdua. Kepala penuh dengan kalimat yang sudah dilatih berminggu-minggu, tetapi yang keluar hanya "Bu...". Hampir semua pengantin pernah ada di titik itu, dan wajar kalau kalimatnya hilang.

Tulisan ini hanya membahas kata-katanya: contoh kalimat pendek dalam bahasa Indonesia, pilihan krama Jawa dan lemes Sunda dengan artinya, serta apa yang biasanya dijawab orang tua. Urutan dan makna prosesinya sudah ada di urutan prosesi pernikahan adat Jawa, jadi tidak diulang di sini.

Tiga hal yang sebenarnya perlu dikatakan

Sungkeman terasa berat karena kalian merasa harus berpidato. Padahal isinya bisa dipecah menjadi tiga bagian kecil, dan masing-masing cukup satu kalimat.

BagianFungsinyaContoh dalam bahasa Indonesia
MaafMenutup kesalahan yang tertinggal selama dibesarkan"Aku mohon maaf atas semua salahku."
Terima kasihMenyebut satu hal konkret yang pernah mereka lakukan"Terima kasih sudah menungguku pulang sampai larut."
RestuMeminta doa untuk rumah tangga yang baru"Mohon doa restu untuk kami berdua."

Kalimat terima kasih paling kuat kalau menyebut hal kecil yang nyata, bukan ucapan umum. "Terima kasih sudah merawatku" benar, tetapi "terima kasih sudah selalu menyisakan lauk untukku" akan membuat ibumu menoleh. Pilih satu kenangan, bukan lima.

Contoh kalimat sungkeman bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia yang hangat dan pendek lebih aman daripada teks panjang yang dihafal. Contoh di bawah bisa dipakai apa adanya atau disesuaikan dengan cara kalian bicara.

Untuk orang tua sendiri

"Bapak, Ibu, hari ini aku mohon maaf atas semua kesalahanku. Terima kasih sudah membesarkanku dengan sabar. Doakan aku dan [nama pasangan] supaya bisa menjaga rumah tangga ini."

Versi paling pendek, kalau suara sudah tidak kuat

"Bu, Pak, maafkan aku. Terima kasih. Mohon restunya."

Untuk mertua

"Bapak, Ibu, terima kasih sudah mempercayakan [nama pasangan] kepadaku. Aku mohon maaf kalau nanti ada kurangku, dan aku mohon restu untuk menjadi bagian dari keluarga ini."

Untuk orang tua yang sudah tidak ada (di banyak keluarga, sungkem diterima oleh wali atau kerabat yang mewakili)

"Bapak, Ibu, hari ini aku menikah. Maafkan semua salahku, terima kasih atas semuanya. Kami selalu mendoakan Bapak dan Ibu."

Dua catatan kecil. Pertama, pilih panggilan yang memang dipakai di rumah: "Bapak", "Ayah", "Abah", "Mama", "Umi". Panggilan resmi yang tidak pernah kalian ucapkan justru terdengar kaku. Kedua, kalau pasangan ikut bersimpuh, cukup satu orang yang berbicara per orang tua, lalu yang lain mengangguk. Dua suara bersamaan jarang rapi.

Pilihan krama untuk keluarga Jawa

Di banyak keluarga Jawa, kata-kata sungkeman diucapkan dalam krama, dan satu kalimat yang benar sudah cukup menyentuh. Semua contoh di bawah memakai krama, bukan ngoko ("aku", "kowe"), karena kalimatnya ditujukan kepada orang tua.

MaksudBahasa Jawa kramaArtinya
Memohon maafBapak, Ibu, kula nyuwun pangapunten sedaya kalepatan kula.Bapak, Ibu, saya mohon maaf atas semua kesalahan saya.
Berterima kasihMatur nuwun sampun ngrimat kula wiwit alit.Terima kasih sudah merawat saya sejak kecil.
Memohon restuKula nyuwun pangestu supados kula kaliyan sisihan kula saged ngadegaken bale griya kanthi rukun.Saya mohon restu supaya saya dan pasangan saya bisa membangun rumah tangga dengan rukun.
Kepada mertuaKula nyuwun dipun tampi dados putra panjenengan.Saya mohon diterima sebagai anak Bapak/Ibu.

Beberapa kosakata yang perlu dikenali: kula untuk menyebut diri, nyuwun (memohon), pangapunten (maaf), pangestu (doa restu), dan matur nuwun (terima kasih). Pasangan sendiri disebut sisihan, karena "garwa" termasuk krama inggil yang semestinya dipakai untuk pasangan orang lain, walau "garwa kula" juga sering terdengar. Pola yang sama, misalnya kula, panjenengan, dan pangestu, juga muncul di kata-kata undangan pernikahan bahasa Jawa, dengan penjelasan tingkat tuturnya.

Karena krama panjang mudah tergelincir, pilih satu atau dua baris saja dari tabel, lalu sambung dengan bahasa Indonesia. Kalimat yang setengah benar di depan pakdhe dan budhe lebih canggung daripada kalimat Indonesia yang jujur.

Pilihan lemes untuk keluarga Sunda

Dalam basa lemes, kalian menyebut diri abdi atau sim kuring, dan orang tua disapa Bapa dan Ibu. Pola ini sama dengan undangan Sunda, jadi pasangan yang menyiapkan keduanya bisa memakai kosakata yang sama.

MaksudBahasa Sunda lemesArtinya
Memohon maafBapa, Ibu, abdi neda dihapunten kana sagala kalepatan abdi.Bapak, Ibu, saya mohon maaf atas semua kesalahan saya.
Berterima kasihHatur nuhun parantos ngasuh sareng ngadidik abdi ti alit.Terima kasih sudah mengasuh dan mendidik saya sejak kecil.
Memohon restuAbdi neda pangéstu, mugi abdi sareng pun bojo tiasa ngawangun rumah tangga anu rukun.Saya mohon restu, semoga saya dan pasangan saya bisa membangun rumah tangga yang rukun.
Kepada mertuaAbdi neda dipaparin pangéstu sareng dipikaasih janten putra Bapa/Ibu.Saya mohon diberi restu dan disayangi sebagai anak Bapak/Ibu.

Pembedaan sumping dan dongkap, neda dan mundut, dibahas lebih rinci di kata-kata undangan pernikahan bahasa Sunda. Untuk sungkeman, cukup ingat satu aturan: kalian yang neda (meminta), bukan yang mundut.

Soal ketepatan bahasa daerah

Dua tabel di atas hanya titik awal. Tingkat tutur berbeda antar keluarga dan antar daerah, dan kata yang pas di Solo bisa terdengar lain di Banyumas, begitu pula Priangan dengan daerah Sunda lainnya. Sebelum hari H, bacakan baris pilihan kalian kepada orang tua atau sesepuh yang masih fasih. Satu kali baca cukup untuk menangkap kata yang janggal.

Yang biasanya dijawab orang tua

Banyak pengantin menyiapkan kalimat sendiri, tetapi lupa bahwa orang tua juga akan menjawab. Jawabannya hampir tidak pernah berupa pidato. Biasanya berupa restu pendek, kadang disertai nasihat, dan sering terdengar hanya oleh yang bersimpuh.

BahasaJawaban yang lazimArtinya
Indonesia"Iya, Nak. Bapak dan Ibu merestui. Hidup rukun ya, saling sabar."Restu singkat dengan satu nasihat
Jawa (orang tua ke anak, ngoko)"Ya, Nduk/Le, Bapak lan Ibu ndongakake. Sing rukun ya, urip bebarengan sing sabar."Ya, Nak, Bapak dan Ibu mendoakan. Yang rukun ya, hidup bersama yang sabar.
Sunda (orang tua ke anak, loma)"Enya, Neng/Jang, Bapa jeung Ibu ngadu'akeun. Hirup rukun, silih asih, silih asah, silih asuh."Ya, Nak, Bapak dan Ibu mendoakan. Hidup rukun, saling menyayangi, saling mengasah, saling mengasuh.

Orang tua berbicara kepada anak dengan ngoko atau loma, itu sudah semestinya. Yang menggunakan krama atau lemes adalah kalian. Jadi jangan heran kalau ibu kalian menjawab dengan bahasa sehari-hari, dan kalimat terakhirnya hanya "ya, sudah, sudah, jangan nangis lagi".

Ada kalanya jawaban orang tua hanya berupa usapan di kepala atau pelukan tanpa kata. Itu juga jawaban, dan tidak perlu dibalas dengan kalimat lain.

Kalau suara tidak keluar

Kalimat bagus tidak menolong kalau lidah kelu. Beberapa kebiasaan kecil biasanya berguna:

  • Hafalkan kalimat pertama saja. Begitu kalimat pembuka keluar, sisanya biasanya ikut mengalir.
  • Latihan dengan suara, bukan di kepala. Ucapkan sekali di depan cermin atau kepada pasangan seminggu sebelumnya, supaya kalimatnya tidak asing di mulut.
  • Bawa selembar catatan kecil. Tidak ada yang akan menegur kalau kalian mengintip contekan sebelum bersimpuh.
  • Beri tahu MC. Minta jeda sebentar dan musik yang tenang, supaya kalian tidak merasa dikejar waktu.
  • Siapkan tisu untuk orang tua juga. Mereka sering lebih dulu menangis.

Sungkeman juga sering menjadi momen yang paling ingin difoto dan direkam keluarga. Kalau kalian ingin membagikannya, tanyakan dulu kepada orang tua, seperti yang dibahas di etika foto dan media sosial di pernikahan.

Di mana sungkeman masuk susunan acara

Sungkeman jarang berdiri sendiri. Di banyak keluarga, sungkeman dilakukan sesudah akad atau di sela resepsi. Di keluarga lain, sungkeman menjadi penutup rangkaian adat, dan sebagian keluarga Jawa juga melakukan sungkem sebelum siraman. Letaknya ditentukan keluarga dan juru rias, bukan template. Contoh jadwalnya ada di susunan acara pernikahan, dan doa yang bisa dikirim tamu sesudahnya ada di ucapan doa pernikahan.

Untuk undangan digital, tamu tidak perlu membaca kata-kata sungkemannya. Yang mereka perlukan adalah tahu kapan harus sudah duduk. Di Swanvara ada dua blok acara, misalnya akad dan resepsi, dan jam sungkeman cukup diwakili jam blok acara tempat sungkeman berlangsung. Yang perlu dicatat: satu-satunya kolom paragraf bebas di undangan adalah "Kalimat pembuka undangan" dengan batas 300 karakter, jadi urutan prosesi lengkap lebih baik disampaikan langsung kepada keluarga yang terlibat.

Kalau kalian ingin satu kalimat tentang orang tua tampil di undangan, ada dua tempat yang aman. Kalimat pembuka undangan bisa memuat ucapan terima kasih singkat, dan kolom Kutipan (dengan sumber yang boleh dikosongkan) tersedia di semua paket. Nama orang tua sendiri ditulis di baris "Keterangan singkat" pada masing-masing nama mempelai.

Langkah berikutnya di Swanvara

Mulailah dari yang bisa diputuskan hari ini, lalu biarkan kata-kata sungkeman menunggu sampai kalian dan orang tua sempat duduk bersama.

  1. Buka galeri template dan pilih yang paling cocok dengan suasana keluarga kalian.
  2. Isi form: nama, tanggal, dua blok acara, lokasi, foto, dan kalimat pembuka. Semuanya bisa diisi dan dilihat preview-nya dulu. Pembayaran baru dilakukan di langkah terakhir, sebelum undangan dipublikasikan. Harga paket ada di halaman harga.
  3. Cek jam resepsi atau akad, karena di sanalah sungkeman dijalani.
  4. Kirim link personal ke tiap tamu lewat tombol "Kirim via WhatsApp".

Soal kata-kata sungkemannya, tulis satu kalimat dengan bahasa kalian sendiri, minta orang tua menjawab sesuka mereka, dan biarkan momen itu berlangsung tanpa naskah yang terlalu rapi.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apa yang diucapkan pengantin saat sungkeman?
Isinya cukup tiga hal pendek: meminta maaf atas kesalahan selama ini, berterima kasih atas asuhan orang tua, dan memohon restu untuk rumah tangga yang baru. Satu atau dua kalimat per orang tua sudah memadai, misalnya "Bapak, Ibu, aku minta maaf atas semua salahku, terima kasih sudah merawatku, dan aku mohon restu."
Apakah kata-kata sungkeman harus memakai bahasa Jawa atau bahasa daerah?
Tidak harus. Bahasa Indonesia yang tulus sudah cukup, dan banyak keluarga memilih itu. Kalau ingin menyelipkan bahasa daerah, pakai satu kalimat krama atau lemes yang kalian pahami artinya, lalu minta orang tua atau sesepuh memeriksanya lebih dulu.
Apa yang biasanya dijawab orang tua saat sungkeman?
Umumnya orang tua memberi restu dan doa singkat, sering disertai nasihat: hidup rukun, sabar, dan saling menjaga. Mereka tidak membacakan teks. Contoh jawabannya ada di bagian "Yang biasanya dijawab orang tua" di atas, dan lebih sering terdengar sebagai bisikan daripada pidato.
Bagaimana kalau lupa kata-kata atau menangis saat sungkeman?
Tidak apa-apa, dan itu yang paling sering terjadi. Hafalkan satu kalimat pembuka saja, misalnya "Aku mohon restu", dan biarkan sisanya keluar apa adanya. Tangis dan jeda justru bagian dari momen ini, bukan kegagalan.
Apakah sungkeman perlu ditulis di undangan digital?
Cukup disebut lewat jam acaranya. Sungkeman biasanya berlangsung di acara yang sudah ada, seperti sesudah akad atau di dalam resepsi, jadi tamu tidak memerlukan teksnya. Yang perlu ditulis di undangan adalah waktu dan tempat acara tersebut.

Baca juga