Kata-Kata Undangan Pernikahan Hindu: Contoh Siap Pakai
Contoh kata-kata undangan pernikahan Hindu dari Om Swastyastu sampai Om Shanti: versi formal, pawiwahan Bali, tamu lintas agama, dan pesan singkat WhatsApp.

Kata-kata undangan pernikahan Hindu umumnya dibuka dengan salam Om Swastyastu, disusul kalimat syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, nama kedua mempelai beserta orang tua, waktu dan tempat upacara, lalu ditutup dengan Om Shanti Shanti Shanti Om. Kerangkanya serupa di banyak keluarga, isinya yang kamu sesuaikan.
Di bawah ini ada susunan lengkapnya, lalu empat contoh jadi: versi formal untuk umum, versi pawiwahan di Bali, versi untuk tamu lintas agama, dan versi pendek untuk WhatsApp. Ganti bagian dalam kurung siku dengan datamu. Kalau kamu butuh kata-kata undangan dengan nada lain, kumpulan kata-kata undangan pernikahan membahasnya per gaya.
Susunan teks undangan pernikahan Hindu
Di banyak keluarga, undangan pernikahan Hindu di Indonesia mengikuti enam bagian ini, berurutan dari atas ke bawah.
| Bagian | Isinya | Contoh kalimat |
|---|---|---|
| Salam pembuka | Salam Hindu di baris paling atas | "Om Swastyastu" |
| Pengantar dan doa | Ucapan syukur, menyebut Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa | "Atas Asung Kertha Wara Nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa, kami bermaksud menyelenggarakan..." |
| Mempelai dan orang tua | Nama lengkap kedua mempelai, urutan anak, nama ayah dan ibu | "putra kedua dari Bapak [Nama] dan Ibu [Nama]" |
| Waktu dan tempat | Upacara dan resepsi, masing-masing dengan hari, tanggal, jam, alamat | "Pawiwahan: [hari], [tanggal], pukul [jam]" |
| Harapan kehadiran | Permohonan hadir dan doa restu | "berkenan hadir untuk memberikan doa restu" |
| Salam penutup | Salam Hindu di baris terakhir, lalu nama keluarga yang mengundang | "Om Shanti Shanti Shanti Om" |
Frasa Asung Kertha Wara Nugraha sering muncul di pengantar. Artinya kurang lebih "atas karunia dan rahmat". Kalau terasa terlalu panjang untuk tamu yang tidak akrab dengan istilah ini, cukup tulis "Atas karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa" atau "Atas rahmat Tuhan Yang Maha Esa".
Soal ejaan: pilih satu dan konsisten
Salam pembukanya punya dua ejaan yang sama-sama umum, Om Swastyastu dan Om Swastiastu. Penutupnya juga begitu: Om Shanti Shanti Shanti Om, atau Om Santih Santih Santih Om yang banyak dipakai di Bali.
Tidak ada yang salah di antara keduanya. Yang terasa janggal justru kalau salam yang sama ditulis berganti-ganti, misalnya penutup undangan memakai Santih tapi pesan WhatsApp memakai Shanti. Tanyakan ke orang tua atau pemangku ejaan mana yang biasa dipakai keluarga, lalu pakai itu di undangan dan di pesan WhatsApp.
Contoh formal untuk umum
Versi ini cocok untuk keluarga besar, rekan kerja orang tua, dan tamu yang datang dari berbagai daerah. Bahasanya Indonesia baku, istilah Hindu hanya di salam dan nama upacara.
Om Swastyastu
Atas Asung Kertha Wara Nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa, kami bermaksud menyelenggarakan Upacara Pawiwahan (Pernikahan) putra-putri kami:
[Nama Lengkap Mempelai Pria]
Putra [pertama/kedua] dari Bapak [Nama] dan Ibu [Nama]dengan
[Nama Lengkap Mempelai Wanita]
Putri [pertama/kedua] dari Bapak [Nama] dan Ibu [Nama]yang akan dilaksanakan pada:
Upacara Pawiwahan
[hari], [tanggal]
Pukul [jam] WITA
[tempat], [alamat lengkap]Resepsi
[hari], [tanggal]
Pukul [jam] WITA
[tempat], [alamat lengkap]Suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan hadir untuk memberikan doa restu kepada kedua mempelai.
Om Shanti Shanti Shanti Om
Kami yang berbahagia,
Keluarga [Nama Keluarga Pria] dan Keluarga [Nama Keluarga Wanita]
Ganti WITA dengan WIB atau WIT sesuai lokasi acara. Kalau resepsinya digelar di hari yang sama, tulis jamnya saja di blok kedua dan hapus baris tanggalnya.
Contoh untuk pawiwahan di Bali
Di Bali, upacara pernikahan disebut pawiwahan dan termasuk rangkaian Manusa Yadnya. Upacaranya sering digelar di rumah keluarga, jadi alamat kediaman ditulis selengkap mungkin, termasuk nama banjar dan desa.
Nama Bali juga punya kebiasaannya sendiri. Di banyak keluarga ada awalan I untuk laki-laki dan Ni untuk perempuan, lalu nama urutan lahir: Wayan, Putu, atau Gede untuk anak pertama, Made atau Kadek, Nyoman atau Komang, lalu Ketut. Sebagian keluarga memakai gelar seperti Ida Bagus, Anak Agung, atau I Gusti, dan susunan namanya mengikuti kebiasaan keluarga masing-masing. Panduan lengkapnya ada di cara menulis nama di undangan pernikahan.
Om Swastyastu
Atas Asung Kertha Wara Nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa, kami bermaksud menyelenggarakan Upacara Manusa Yadnya Pawiwahan putra-putri kami:
[I Wayan / I Made ... Nama Lengkap]
Putra [pertama/kedua] dari Bapak [Nama] dan Ibu [Nama]dengan
[Ni Luh / Ni Made ... Nama Lengkap]
Putri [pertama/kedua] dari Bapak [Nama] dan Ibu [Nama]Upacara Pawiwahan
[hari], [tanggal]
Pukul [jam] WITA
Kediaman [Nama Keluarga], [alamat], Banjar [nama banjar], Desa [nama desa]Resepsi
[hari], [tanggal]
Pukul [jam] WITA
[tempat], [alamat lengkap]Atas kehadiran dan doa restu Bapak/Ibu/Saudara/i, kami mengucapkan terima kasih.
Om Santih Santih Santih Om
Kami yang berbahagia,
Keluarga Besar [Nama Keluarga]
Contoh ini sengaja memakai bahasa Indonesia di badan teks. Kalau keluarga ingin kalimat berbahasa Bali, mintalah dari orang tua, tetua, atau pemangku yang memang fasih, jangan mengarang dari mesin penerjemah. Untuk arah visual dan warna, inspirasi undangan pernikahan Bali membahasnya dari ukiran sampai palet.
Contoh untuk tamu lintas agama
Kalau sebagian besar tamu bukan Hindu, misalnya teman kantor atau teman kuliah, salam Hindu tetap dipakai karena itu salam keluargamu. Yang ditambahkan cukup satu salam umum dan padanan istilah di dalam kurung, supaya tidak ada tamu yang merasa sedang membaca teks untuk orang lain.
Om Swastyastu,
Salam sejahtera untuk kita semua.Dengan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk hadir di hari pernikahan kami:
[Nama Mempelai Pria] & [Nama Mempelai Wanita]
Upacara Pawiwahan (Upacara Pernikahan)
[hari], [tanggal], pukul [jam]
[tempat], [alamat]Resepsi
[hari], [tanggal], pukul [jam]
[tempat], [alamat]Kehadiran dan doa restu Bapak/Ibu/Saudara/i sangat berarti bagi kami dan keluarga.
Om Shanti Shanti Shanti Om
[Nama Mempelai Pria] & [Nama Mempelai Wanita]
beserta keluarga
Kalau upacaranya hanya untuk keluarga dan tamu tertentu, katakan dengan jelas, misalnya dengan menambahkan "khusus keluarga" di bawah blok upacara. Itu lebih sopan daripada membiarkan tamu datang ke rumah keluarga di jam upacara dan bingung harus duduk di mana.
Contoh singkat untuk WhatsApp
Undangan lengkapnya sudah ada di tautan, jadi pesannya cukup pendek. Dua versi, yang agak resmi dan yang santai:
Om Swastyastu. Dengan hormat, kami mengundang Bapak/Ibu [Nama] untuk hadir di pernikahan kami, [Nama Pria] & [Nama Wanita], pada [hari], [tanggal]. Detail acaranya ada di tautan berikut: [tautan]. Om Shanti Shanti Shanti Om.
Om Swastyastu, [Nama]! Kami menikah [tanggal]. Undangannya di sini ya: [tautan]. Kami tunggu kedatanganmu.
Sapaan nama di awal pesan membuat undangan terasa dikirim satu per satu, bukan disebar massal ke semua kontak.
Hindu tidak hanya Bali
Contoh di atas paling dekat dengan kebiasaan di Bali karena di sanalah undangan Hindu paling sering ditulis. Tapi umat Hindu di Indonesia tersebar lebih luas. Ada masyarakat Tengger di sekitar Bromo, umat Hindu Jawa di Jawa Tengah dan Jawa Timur, umat Hindu di Lombok, Sulawesi, dan Kalimantan, sampai keluarga keturunan India di Medan dan Jakarta.
Masing-masing punya istilah upacara, urutan acara, dan kebiasaan menulis undangan sendiri. Banyak yang tetap memakai salam Om Swastyastu dan Om Shanti, tapi nama upacara, salam, dan kalimat pengantarnya bisa berbeda. Pegangan paling aman: ikuti keluarga, dan tanyakan ke pemangku, pinandita, atau pemuka agama yang akan memimpin upacara. Mereka yang tahu istilah mana yang tepat untuk rangkaian di keluargamu.
Satu hal lagi yang sering berlaku lintas daerah: di banyak keluarga tanggal upacara ditentukan lewat perhitungan hari baik (di Bali disebut dewasa ayu). Jangan menyebar undangan, bahkan versi save the date, sebelum tanggal itu benar-benar disepakati keluarga.
Yang sering keliru
Ejaan salam yang campur. Santih di penutup undangan, lalu Shanti di pesan WhatsApp. Atau Swastiastu di undangan, Swastyastu di pesan. Satu keluarga, satu ejaan.
Nama upacara tanpa keterangan. Tamu dari luar komunitas Hindu belum tentu tahu apa itu pawiwahan. Tambahkan "(Pernikahan)" di belakangnya, cukup sekali.
Gelar dan nama urutan yang tertukar. Menulis "Made" padahal anak pertama, atau lupa gelar ayah, akan langsung terbaca oleh keluarga. Cek ke orang tua sebelum undangan dikirim.
Alamat kediaman yang terlalu pendek. "Rumah keluarga di Gianyar" tidak cukup. Tulis alamat lengkap dan sertakan tautan peta, karena tamu dari luar desa sering kesulitan menemukan rumah di gang yang mirip satu sama lain.
Memindahkannya ke undangan digital
Teks yang sudah jadi tinggal dipindahkan ke halaman undangan. Di Swanvara kamu mengisi satu form (nama kedua mempelai, jadwal acara, lokasi beserta tautan peta, foto), memilih template, lalu mendapat undangan web dengan alamatnya sendiri, misalnya wayan-ayu.swanvara.com. Paketnya Lite Rp 99rb, Pro Rp 199rb, dan Max Rp 349rb, dibayar sekali per undangan.
Bagian acaranya berisi dua blok. Blok pertama untuk upacara keagamaan, dan Pawiwahan sudah tersedia sebagai pilihan jenisnya. Blok kedua untuk resepsi. Masing-masing punya tanggal, jam mulai dan selesai, lokasi, dan tautan peta. Hanya ada dua blok, jadi kalau rangkaian keluargamu punya lebih banyak prosesi, masukkan upacara inti dan resepsi saja, lalu sebut prosesi lainnya lewat pesan undangan yang kamu kirim bersama tautan. Di bagian mempelai ada dua kolom nama, dan kamu bisa memilih nama siapa yang tampil duluan.
Dua hal yang perlu diputuskan sebelum membayar. Pertama, subdomain. Di Lite dan Pro alamatnya permanen setelah undangan terbit. Max memberi lima kali penggantian, tapi alamat lama langsung mati tanpa pengalihan, jadi tautan yang sudah tersebar tidak bisa dibuka lagi. Kedua, galeri: 10 foto di Lite, 20 di Pro, 40 di Max, dan slot tambahan bisa dibeli terpisah.
Setelah terbit, isinya tetap bisa kamu ubah. Kalau jam upacara bergeser karena menyesuaikan hari baik, perbaiki di dashboard dan tamu yang membuka tautan yang sama langsung melihat versi terbaru. Tiap tamu juga bisa mendapat tautan sendiri yang menyapa namanya, dan rekap RSVP hanya terlihat olehmu. Halaman undangan tidak diindeks mesin pencari, tapi tidak ada kata sandi, jadi siapa pun yang memegang tautannya bisa membukanya.
Soal tampilan, jujur saja: belum ada template khusus Bali atau khusus Hindu di Swanvara. Untuk teks seperti di atas, bingkai yang tenang dan resmi biasanya paling pas. Imprint bernuansa letterpress di atas kertas krem dengan segel lilin, cocok untuk undangan formal dari dua keluarga. Aurora memakai serif editorial dengan aksen merah tua yang hangat, pas kalau kamu ingin salam dan nama kalian punya ruang untuk dibaca pelan. Lihat semua pilihannya di galeri template.
Pilih satu contoh, samakan ejaan salamnya, cek nama dan gelar ke keluarga, dan teks undanganmu siap dikirim. Untuk pemberkatan di gereja, kerangka serupa ada di kata-kata undangan pernikahan Kristen. Kalau pemberkatannya di vihara, lihat kata-kata undangan pernikahan Buddha.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Mana yang benar, Om Swastyastu atau Om Swastiastu?
- Keduanya dipakai dan keduanya dipahami. Kebiasaannya berbeda antarkeluarga, daerah, dan lembaga. Pilih satu, lalu pakai ejaan yang sama dari awal sampai akhir. Kalau keluarga atau pemangku punya kebiasaan sendiri, ikuti itu.
- Apa arti Om Shanti Shanti Shanti Om di penutup undangan?
- Salam penutup ini berisi harapan akan kedamaian dan diucapkan tiga kali. Maknanya sering dijelaskan sebagai damai di hati, damai di dunia, dan damai selalu, walau penjelasannya bisa berbeda menurut guru atau tradisi. Di Bali ejaannya sering ditulis Om Santih Santih Santih Om. Maknanya sama, jadi pilih ejaan yang biasa dipakai keluargamu dan tulis konsisten.
- Apakah undangan pernikahan Hindu harus memakai bahasa Bali?
- Tidak harus. Banyak undangan ditulis dalam bahasa Indonesia, dengan salam pembuka dan penutup serta beberapa istilah upacara yang tetap dipakai aslinya, misalnya pawiwahan. Umat Hindu juga tidak hanya ada di Bali, jadi bahasa Indonesia justru pilihan paling aman supaya semua tamu paham.
- Bagaimana menulis undangan kalau banyak tamu yang bukan Hindu?
- Salam Om Swastyastu tetap boleh dipakai karena itu salam keluargamu. Supaya semua tamu merasa disapa, tambahkan salam umum seperti "salam sejahtera untuk kita semua" dan pakai sebutan Tuhan Yang Maha Esa di kalimat syukurnya. Istilah upacara bisa diberi padanan dalam kurung, misalnya Pawiwahan (Upacara Pernikahan).
Baca juga
Kata-kata
Kata-Kata Undangan Tedak Siten: Contoh dari Orang Tua, Eyang, dan untuk Grup WhatsApp
Contoh kata-kata undangan tedak siten siap pakai: formal dari orang tua, hangat untuk keluarga, atas nama eyang, grup WhatsApp, pesan sesepuh, dan hari pasaran.
Kata-kata
Ucapan Selamat Lamaran untuk Sahabat, Rekan Kerja, dan Keluarga
Contoh ucapan selamat lamaran dan tunangan untuk sahabat, teman kantor, keluarga, dan calon besan, lengkap dengan versi islami, kristiani, dan komentar Instagram.
Kata-kata
Kata-Kata Undangan Pensiun: Contoh untuk Kantor, Keluarga, dan WhatsApp
Contoh kata-kata undangan pensiun siap pakai: pelepasan instansi, perpisahan kantor, syukuran keluarga, versi Islami, versi WhatsApp, dan pesan untuk mentor.
Siap membuat undangan kalian sendiri?
Pilih template, isi detail acara, dan bagikan tautannya ke tamu — semua bisa selesai dalam satu sore.
