Kata-Kata Undangan Pernikahan Buddha: Contoh dan Susunannya
Contoh kata-kata undangan pernikahan Buddha dari Namo Buddhaya sampai Sadhu: versi formal, pemberkatan di vihara, tamu lintas agama, dan pesan WhatsApp.

Kata-kata undangan pernikahan Buddha umumnya dibuka dengan salam Namo Buddhaya, disusul ucapan syukur atas berkah Tiratana, nama kedua mempelai beserta orang tua, jadwal pemberkatan dan resepsi, lalu ditutup dengan harapan "Sabbe satta bhavantu sukhitatta" (semoga semua makhluk hidup berbahagia). Kerangka ini dipakai di banyak vihara, dan detail istilahnya menyesuaikan tradisi keluarga.
Di bawah ini ada susunan lengkapnya, catatan soal istilah, lalu empat contoh jadi: versi formal untuk umum, versi pemberkatan di vihara dengan resepsi, versi untuk tamu lintas agama, dan pesan singkat untuk WhatsApp. Bagian dalam kurung siku tinggal diganti dengan datamu. Kalau kamu mencari nada lain di luar nuansa keagamaan, kumpulan kata-kata undangan pernikahan membahasnya per gaya.
Susunan teks undangan pernikahan Buddha
Urutannya enam bagian, dari atas ke bawah. Tidak semua keluarga memakai keenamnya, tapi urutan ini yang paling mudah diikuti tamu.
| Bagian | Isinya | Contoh kalimat |
|---|---|---|
| Salam pembuka | Salam Buddhis di baris paling atas | "Namo Buddhaya" |
| Pengantar syukur | Ucapan syukur dan maksud mengundang | "Dengan berkah Tiratana, kami bermaksud menyelenggarakan..." |
| Mempelai dan orang tua | Nama lengkap kedua mempelai, urutan anak, nama ayah dan ibu | "putra kedua dari Bapak [Nama] dan Ibu [Nama]" |
| Waktu dan tempat | Pemberkatan dan resepsi, masing-masing dengan hari, tanggal, jam, alamat | "Pemberkatan: [hari], [tanggal], pukul [jam], Vihara [nama]" |
| Harapan kehadiran | Permohonan hadir dan doa restu | "berkenan hadir dan memberikan doa restu" |
| Penutup | Harapan baik, lalu nama keluarga yang mengundang | "Sabbe satta bhavantu sukhitatta. Sadhu, sadhu, sadhu." |
Tiratana berarti tiga permata: Buddha, Dhamma, dan Sangha. Kalau istilah ini terasa asing bagi sebagian tamu, pengantarnya bisa ditulis lebih sederhana, misalnya "Dengan penuh syukur, kami bermaksud menyelenggarakan...". Maknanya tetap tersampaikan.
Istilah dan salam: ikuti vihara dan majelismu
Umat Buddha di Indonesia tidak semuanya mengikuti tradisi yang sama. Ada yang berpegang pada Theravada, ada yang Mahayana, ada Buddhayana yang merangkul beberapa aliran, dan ada keluarga Tridharma yang beribadah di klenteng. Masing-masing punya majelis, istilah, dan tata upacaranya sendiri.
Perbedaannya terlihat sampai ke ejaan. Tradisi yang memakai bahasa Pali menulis Tiratana dan Dhamma. Tradisi yang memakai bahasa Sanskerta menulis Triratna dan Dharma. Sebutan rohaniwannya juga berbeda: bhikkhu dalam tradisi Pali, bhiksu dalam tradisi Sanskerta. Ada pula pandita, pemuka agama dari kalangan umat perumah tangga. Di banyak vihara, pemberkatan pernikahan dipimpin oleh pandita.
Jangan menebak dari contoh di internet, termasuk dari halaman ini. Tanyakan ke pandita atau pengurus vihara yang akan memimpin upacara: salam apa yang biasa dipakai, bagaimana menyebut nama upacaranya, dan ejaan mana yang benar untuk majelismu. Jawaban itulah yang kamu pakai di undangan dan di semua pesan yang kamu kirim.
Contoh formal untuk umum
Versi ini cocok untuk keluarga besar, kenalan orang tua, dan rekan kerja. Bahasanya Indonesia baku, istilah Buddhis hanya muncul di salam, pengantar, dan penutup.
Namo Buddhaya
Dengan berkah Tiratana, kami bermaksud menyelenggarakan pernikahan putra-putri kami:
[Nama Lengkap Mempelai Pria]
Putra [pertama/kedua] dari Bapak [Nama] dan Ibu [Nama]dengan
[Nama Lengkap Mempelai Wanita]
Putri [pertama/kedua] dari Bapak [Nama] dan Ibu [Nama]yang akan dilaksanakan pada:
Pemberkatan Pernikahan
[hari], [tanggal]
Pukul [jam] WIB
[nama vihara], [alamat lengkap]Resepsi
[hari], [tanggal]
Pukul [jam] WIB
[tempat], [alamat lengkap]Kami akan berbahagia apabila Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan hadir dan memberikan doa restu kepada kedua mempelai.
Sabbe satta bhavantu sukhitatta
Semoga semua makhluk hidup berbahagiaKami yang berbahagia,
Keluarga [Nama Keluarga Pria] dan Keluarga [Nama Keluarga Wanita]
Kalau resepsinya di hari yang sama, cukup tulis jam dan tempatnya di blok kedua, baris tanggalnya dihapus. Ganti WIB dengan WITA atau WIT sesuai lokasi acara.
Contoh untuk pemberkatan di vihara dan resepsi
Pemberkatan di vihara punya kebutuhan yang tidak ada di gedung resepsi. Tamu perlu tahu jam berapa harus sudah duduk, karena upacara biasanya dimulai tepat waktu dan datang terlambat terasa kurang sopan. Nama vihara juga perlu ditulis lengkap, karena di satu kota bisa ada beberapa vihara dengan nama yang mirip.
Namo Buddhaya
Dengan penuh syukur, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk menghadiri upacara pemberkatan pernikahan dan resepsi putra-putri kami:
[Nama Lengkap Mempelai Pria]
Putra [pertama/kedua] dari Bapak [Nama] dan Ibu [Nama]&
[Nama Lengkap Mempelai Wanita]
Putri [pertama/kedua] dari Bapak [Nama] dan Ibu [Nama]Pemberkatan Pernikahan secara Agama Buddha
[hari], [tanggal]
Pukul [jam] WIB (tamu dimohon hadir 30 menit sebelumnya)
[Nama Lengkap Vihara], [alamat lengkap]Resepsi
[hari], [tanggal]
Pukul [jam] WIB sampai selesai
[nama gedung atau restoran], [alamat lengkap]Atas kehadiran dan doa restu Bapak/Ibu/Saudara/i, kami mengucapkan terima kasih.
Sabbe satta bhavantu sukhitatta
Sadhu, sadhu, sadhuKami yang berbahagia,
Keluarga Besar [Nama Keluarga]
Kalau pemberkatan hanya untuk keluarga dan kerabat dekat, tulis "khusus keluarga" di bawah blok pemberkatan. Tamu lain jadi tahu cukup datang ke resepsi. Tamu yang belum pernah ke vihara biasanya juga senang diberi tahu hal kecil seperti kebiasaan melepas alas kaki sebelum masuk ruang ibadah, yang berlaku di banyak vihara. Soal itu, etika tamu di pernikahan agama lain sudah merangkumnya, dan tautannya bisa kamu teruskan ke teman yang bertanya.
Contoh untuk tamu lintas agama
Banyak pasangan Buddhis mengundang teman kantor atau teman kuliah yang sebagian besar beragama lain. Salam Buddhis tidak perlu dihapus. Yang ditambahkan cukup satu salam umum dan arti kalimat Pali di dalam kurung, supaya tidak ada tamu yang merasa sedang membaca teks untuk orang lain.
Namo Buddhaya,
Salam sejahtera untuk kita semua.Dengan penuh syukur, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk hadir di hari pernikahan kami:
[Nama Mempelai Pria] & [Nama Mempelai Wanita]
Pemberkatan Pernikahan
[hari], [tanggal], pukul [jam]
[nama vihara], [alamat]Resepsi
[hari], [tanggal], pukul [jam]
[tempat], [alamat]Kehadiran dan doa restu Bapak/Ibu/Saudara/i sangat berarti bagi kami dan keluarga.
Sabbe satta bhavantu sukhitatta (semoga semua makhluk hidup berbahagia).
[Nama Mempelai Pria] & [Nama Mempelai Wanita]
beserta keluarga
Versi ini sengaja tidak memakai "Dengan berkah Tiratana". Kalimat syukur yang umum lebih mudah dipahami semua orang, dan salam pembuka sudah cukup menandai bahwa ini pernikahan Buddhis. Pola yang sama dipakai di kata-kata undangan pernikahan Hindu untuk tamu lintas agama.
Contoh singkat untuk WhatsApp
Undangan lengkapnya sudah ada di tautan, jadi pesannya boleh pendek. Dua versi, yang agak resmi dan yang santai:
Namo Buddhaya. Dengan hormat, kami mengundang Bapak/Ibu [Nama] untuk hadir di pernikahan kami, [Nama Pria] & [Nama Wanita], pada [hari], [tanggal]. Detail pemberkatan dan resepsinya ada di tautan berikut: [tautan]. Terima kasih atas doa restunya.
Namo Buddhaya, [Nama]! Kami menikah [tanggal]. Undangannya di sini ya: [tautan]. Semoga kamu bisa datang.
Menyebut nama penerima di awal pesan membuat undangan terasa dikirim satu per satu. Isi [tautan] dengan tautan pribadi tamu itu, karena RSVP hanya bisa diisi lewat tautan pribadi. Penutup "Sadhu, sadhu, sadhu" tidak harus ikut di pesan singkat, apalagi kalau penerimanya bukan umat Buddha.
Yang sering keliru
Ejaan yang berganti-ganti. Dhamma di pengantar, Dharma di penutup. Atau Tiratana di undangan, Triratna di pesan WhatsApp. Pilih yang dipakai majelismu dan pertahankan dari awal sampai akhir.
Kalimat Pali tanpa arti. Tamu yang bukan Buddhis tidak tahu arti Sabbe satta bhavantu sukhitatta. Satu baris terjemahan di bawahnya sudah cukup, dan justru membuat penutupnya terasa hangat.
Terlalu banyak istilah. Undangan bukan tempat menjelaskan ajaran. Salam pembuka, satu kalimat syukur, dan satu harapan penutup sudah memberi nuansa Buddhis yang jelas. Kalau keluarga ingin kutipan dari kitab suci, mintalah ke pandita, jangan mengambil terjemahan acak dari internet.
Jam pemberkatan dan resepsi yang digabung. "Pemberkatan dan resepsi pukul 10.00" membuat tamu bingung harus ke vihara atau ke gedung. Tulis dua blok terpisah, masing-masing lengkap.
Nama yang belum dicek ke keluarga. Banyak keluarga Buddhis Tionghoa memakai nama Indonesia di dokumen resmi dan nama Tionghoa di lingkungan keluarga. Tanyakan ke orang tua nama mana yang ingin ditulis di undangan, dan ejaannya seperti apa.
Membuatnya di Swanvara
Teks yang sudah jadi tinggal dipindahkan ke halaman undangan. Di Swanvara kamu mengisi satu form, memilih template, lalu mendapat undangan web dengan alamat yang kamu tentukan sendiri, misalnya andi-mei.swanvara.com. Paketnya Lite Rp 99rb, Pro Rp 199rb, dan Max Rp 349rb, dibayar sekali per undangan. Rinciannya ada di bagian harga.
Formnya sama untuk semua pernikahan. Bagian acara berisi dua blok. Di blok pertama, Pemberkatan Buddhis sudah tersedia sebagai pilihan jenis upacara. Kalau pandita memintamu memakai nama upacara lain, pilih "Lainnya" dan ketik sendiri. Teks itulah yang tampil sebagai judul blok dan di pilihan RSVP. Blok kedua untuk resepsi. Masing-masing punya tanggal, jam mulai dan selesai, lokasi, dan tautan peta. Hanya ada dua blok, jadi kalau rangkaian keluargamu lebih panjang, masukkan pemberkatan dan resepsi saja, lalu sebut acara lainnya di pesan yang kamu kirim bersama tautan.
Di bagian mempelai ada dua kolom nama, dan kamu bisa memilih nama siapa yang tampil duluan. Tiap kolom butuh satu foto, begitu juga sampul undangan. Fotonya tidak harus potret wajah. Foto tangan, bunga, atau tekstur kain juga bisa. Galeri boleh dikosongkan, dan kalau diisi, kapasitasnya 10 foto di Lite, 20 di Pro, dan 40 di Max.
Satu hal soal cara menyebar. Tiap tamu mendapat tautan pribadi yang menyapa namanya, dan di baris tamu pada dashboard ada ikon kecil untuk menyalin pesan undangan orang itu. Tautan pribadi inilah yang bisa dipakai tamu untuk mengisi RSVP dan menulis di buku tamu. Tautan umum yang kamu bagikan ke grup hanya untuk dibaca. Rekap RSVP dan jumlah tamu hanya kamu yang bisa melihatnya di dashboard.
Setelah terbit, isinya masih bisa kamu ubah. Kalau vihara menggeser jam pemberkatan, perbaiki di dashboard, dan tamu yang membuka tautan yang sama langsung melihat versi terbaru. Alamat subdomain lain ceritanya. Di Lite dan Pro alamatnya permanen. Max memberi lima kali penggantian, tapi alamat lama langsung mati tanpa pengalihan. Halaman undangan juga tidak diindeks mesin pencari, tapi tidak memakai kata sandi, jadi siapa pun yang memegang tautannya bisa membukanya.
Soal tampilan, kami jujur saja: belum ada template khusus Buddhis di Swanvara. Untuk teks seperti di atas, bingkai yang tenang biasanya paling pas. Imprint bernuansa letterpress di atas kertas krem, cocok untuk undangan resmi dari dua keluarga. Aurora memakai serif editorial yang lapang, sehingga salam pembuka dan nama kalian punya ruang untuk dibaca pelan. Monsun memakai tinta indigo yang merembes lembut, pas untuk pasangan yang ingin suasana hening. Nuansa Buddhisnya datang dari teksmu, bukan dari hiasannya. Pilihan lainnya, lebih dari 30 template, ada di galeri template.
Pilih satu contoh, tanyakan ejaan dan istilahnya ke pandita, cek nama ke keluarga, dan teks undanganmu siap dikirim.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Apa arti Sabbe satta bhavantu sukhitatta di undangan?
- Kalimat berbahasa Pali ini berarti "semoga semua makhluk hidup berbahagia". Di undangan pernikahan, kalimat ini biasa ditaruh di bagian penutup, sebagai harapan baik untuk semua makhluk, bukan untuk kedua mempelai saja. Kalau tamumu banyak yang belum akrab dengan bahasa Pali, tulis artinya dalam kurung di belakangnya.
- Apakah semua undangan pernikahan Buddha harus dibuka dengan Namo Buddhaya?
- Tidak harus. Namo Buddhaya memang salam yang paling sering dipakai umat Buddha di Indonesia, tapi tiap aliran dan majelis punya kebiasaan sendiri, dan sebagian keluarga memilih membuka dengan kalimat syukur saja. Tanyakan ke pandita atau pengurus vihara yang akan memimpin pemberkatan, lalu ikuti kebiasaan di sana.
- Kapan Sadhu, sadhu, sadhu dipakai di undangan?
- Sadhu diucapkan tiga kali sebagai tanda setuju dan turut bersukacita atas hal yang baik. Di undangan, ungkapan ini biasanya muncul di baris paling akhir, setelah harapan penutup. Cukup ditulis sekali di satu undangan, tidak perlu diulang di setiap bagian.
- Bagaimana menulis undangan kalau banyak tamu yang bukan Buddhis?
- Salam Namo Buddhaya tetap boleh dipakai karena itu salam keluargamu. Tambahkan satu salam umum seperti "salam sejahtera untuk kita semua", beri padanan untuk istilah seperti Tiratana, dan tulis arti kalimat Pali di dalam kurung. Dengan begitu semua tamu bisa membaca undangannya tanpa merasa asing.
Baca juga
Kata-kata
Kata-Kata Undangan Tedak Siten: Contoh dari Orang Tua, Eyang, dan untuk Grup WhatsApp
Contoh kata-kata undangan tedak siten siap pakai: formal dari orang tua, hangat untuk keluarga, atas nama eyang, grup WhatsApp, pesan sesepuh, dan hari pasaran.
Kata-kata
Ucapan Selamat Lamaran untuk Sahabat, Rekan Kerja, dan Keluarga
Contoh ucapan selamat lamaran dan tunangan untuk sahabat, teman kantor, keluarga, dan calon besan, lengkap dengan versi islami, kristiani, dan komentar Instagram.
Kata-kata
Kata-Kata Undangan Pensiun: Contoh untuk Kantor, Keluarga, dan WhatsApp
Contoh kata-kata undangan pensiun siap pakai: pelepasan instansi, perpisahan kantor, syukuran keluarga, versi Islami, versi WhatsApp, dan pesan untuk mentor.
Siap membuat undangan kalian sendiri?
Pilih template, isi detail acara, dan bagikan tautannya ke tamu — semua bisa selesai dalam satu sore.
