swanvara

Kata-kata

Pantun Undangan Pernikahan: 25 Contoh Orisinal dan Cara Memakainya

25 pantun undangan pernikahan orisinal: mengundang hadir, minta doa restu, untuk teman, nuansa Melayu dan Betawi, penutup. Plus cara menaruhnya di undangan.

Tim Swanvara

Pantun undangan pernikahan adalah pantun empat baris yang dipakai untuk mengundang, meminta doa restu, atau berterima kasih kepada tamu pernikahan. Dua baris pertamanya sampiran, dua baris terakhirnya isi, dan bunyi akhir keempat barisnya berselang-seling a-b-a-b.

Semua pantun di halaman ini kami tulis baru, jadi bebas kamu pakai dan ubah. Ganti nama, ganti kata sampirannya, selama rimanya tetap berpasangan. Di bagian akhir ada panduan menaruhnya di pesan WhatsApp atau di kalimat pembuka undangan.

Empat syarat pantun yang benar

Banyak "pantun" undangan sebenarnya empat kalimat yang dibuat berima seadanya. Pantun yang baik punya bentuk yang bisa dicek:

  • Empat baris. Satu bait, tidak lebih.
  • Rima a-b-a-b. Bunyi akhir baris 1 sama dengan baris 3, bunyi akhir baris 2 sama dengan baris 4.
  • Sampiran dan isi. Baris 1-2 adalah sampiran, gambaran dari alam atau keseharian. Baris 3-4 adalah isi, pesan yang benar-benar ingin kamu sampaikan.
  • 8-12 suku kata per baris. Cukup pendek untuk diucapkan dalam satu napas.

Cek cepatnya: ketuk meja sekali untuk tiap suku kata. Kalau baris ketiga jauh lebih panjang dari baris pertama, ucapanmu akan tersandung. Kurangi satu atau dua kata sampai ketukannya mirip.

Pantun mengundang hadir

Pantun jenis ini mengajak datang dan menyerahkan detail acara ke undangannya. Cocok menemani tautan di pesan chat.

Burung merpati terbang ke taman,
Hinggap sebentar di dahan rendah.
Kami kirimkan kabar dan undangan,
Semoga kamu berkenan singgah.

Mendayung perahu di pagi hari,
Ombak tenang menyapa pantai.
Kami berharap kamu menghadiri
Acara sederhana, hangat dan damai.

Menanam jagung di tanah subur,
Disiram air tiap petang.
Kami tunggu hadirmu dengan syukur,
Semoga datang dengan hati lapang.

Bunga melati di dalam vas,
Wanginya sampai ke ujung jalan.
Kalau harimu sedang bebas,
Datang ya, kami tunggu di perhelatan.

Ke pasar pagi membeli ikan,
Ikan segar dibawa pulang.
Ajak keluarga dan teman,
Kami senang kalian datang.

Pantun minta doa restu

Pantun jenis ini paling pantas dibaca orang tua, kerabat yang dituakan, dan guru. Nadanya tenang, jadi aman juga dipakai sebagai pembuka undangan.

Buah rambutan dipetik dini,
Dimakan bersama di serambi rumah.
Mohon doa restu setulus hati,
Semoga rumah tangga kami penuh berkah.

Layar terkembang menuju pulau,
Angin laut bertiup lembut.
Hati kami tak lagi risau,
Jika restumu datang menyambut.

Bulan purnama bersinar terang,
Bintang bertaburan di langit biru.
Doakan kami melangkah tenang
Dalam ikatan hidup yang baru.

Memetik mangga di pagi cerah,
Mangga ranum jatuh ke rerumputan.
Dengan restu, hidup kami terarah,
Doa Bapak dan Ibu jadi pegangan.

Kapal berlayar di lautan lepas,
Menuju pelabuhan di dermaga.
Doamu bekal yang tulus dan ikhlas,
Semoga kami saling menjaga.

Pantun untuk teman: lucu tapi sopan

Lucunya datang dari situasi yang dikenal semua orang, seperti ditanya kapan nikah atau teman yang selalu telat, bukan dari menyindir seseorang. Tiga hal tetap di luar candaan: uang dan amplop, tekanan untuk hadir, dan keluarga pasangan. Batas selengkapnya ada di kata-kata undangan pernikahan lucu.

Beli sandal di pasar malam,
Warnanya merah, harganya murah.
Ditanya "kapan nikah" kami diam,
Kini jawabannya: kami menikah.

Pergi ke kebun memetik jeruk,
Jeruknya manis, kulitnya tipis.
Datang, ya, jangan bilang masih ngantuk,
Sebab namamu sudah kami tulis.

Pagi hari makan lontong,
Disantap dengan sayur dan gulai.
Jangan sampai kursimu kosong,
Dan datanglah sebelum hidangan usai.

Jam karet jadi kebiasaan,
Janji pukul tujuh, tiba sepuluh.
Kami titip satu permintaan,
Datang tepat waktu, hati kami penuh.

Mi instan dimasak dengan telur,
Disantap hangat di pinggir pasar.
Teman lama, jangan sampai kamu mundur,
Kalau tak bisa, kirim doa dan kabar.

Pantun di bagian ini sebaiknya dikirim ke teman lewat chat, bukan dipasang di halaman undangan. Kalau kamu ingin nada yang lebih pribadi untuk satu sahabat, misalnya mengungkit kenangan bersama, contohnya ada di kata-kata undangan untuk sahabat.

Pantun bernuansa Melayu dan Betawi

Pantun berakar di tradisi Melayu. Di Betawi ia hidup dalam palang pintu, saat dua pihak berbalas pantun sebelum rombongan mempelai pria boleh masuk. Karena itu pantun di bagian ini memakai kosakata yang memang dipakai di sana: sudilah, majelis, tepak, hajatan, nyok.

Dua pegangan supaya tetap hormat. Pakai kata-kata yang memang dipakai keluargamu, jangan menempelkan logat sampai terdengar meniru. Dan tanyakan dulu ke orang yang paling paham adat di keluarga, karena sebagian keluarga punya pantun sendiri yang lebih pantas dipakai. Latar adatnya dibahas di inspirasi undangan pernikahan Melayu dan inspirasi undangan pernikahan Betawi.

Melayu

Sirih dijunjung di atas tepak,
Pinang dibelah lalu dihidang.
Sudilah kiranya Ibu dan Bapak,
Hadir merayakan hari yang gemilang.

Perahu kolek menuju muara,
Angin berhembus tenang dan lama.
Semoga rumah tangga kami mesra,
Sehidup semati, tua pun bersama.

Pergi menjala di tepi sungai,
Dapat ikan sebakul penuh.
Majelis kami sederhana dan santai,
Sudilah singgah, hati kami teduh.

Betawi

Ondel-ondel menari di halaman,
Tanjidor bersahutan, bunyinya lantang.
Nyok, kite rame-rame ke hajatan,
Abang dan None, ditunggu dengan riang.

Roti buaya dibawa mempelai,
Disambut hangat penuh hormat.
Doakan ye, kami selalu damai,
Rumah tangga kami berjalan selamat.

Pantun penutup dan terima kasih

Pantun ini untuk pesan setelah acara, misalnya ke tamu yang sudah datang atau yang mengirim ucapan. Kalimat penutup di halaman undangan sudah tertulis di template dan tidak bisa kamu isi sendiri, jadi pantun penutup paling cocok dikirim lewat chat.

Pergi ke hutan mencari rotan,
Diangkut pedati ke seberang.
Terima kasih atas kehadiran,
Doa dan restumu kami kenang.

Bulan bersinar di atas atap,
Bintang berkelip menemani malam.
Hadirmu membuat hari kami lengkap,
Kami kirim doa dan salam.

Pohon kelapa di tepi sawah,
Buahnya jatuh ke pasir putih.
Ucapanmu membuat hati sumringah,
Terima kasih, doamu tanpa pamrih.

Menjemur padi di bawah terik,
Padi kering dibawa ke lumbung.
Hadirmu membuat hari kami apik,
Semoga kamu selalu beruntung.

Senja turun di balik bukit,
Burung layang kembali ke sarang.
Kebaikanmu bagi kami tak sedikit,
Doa kami iringi langkahmu pulang.

Menaruh pantun: pesan WhatsApp atau kalimat pembuka

Ada dua tempat yang paling masuk akal, dan keduanya punya aturan yang berbeda.

KeperluanPantun yang cocokTaruh di mana
Mengabari tamu satu per satuMengundang hadirPesan WhatsApp, sebelum tautan
Sapaan pembuka yang dibaca semua tamuDoa restu, atau Melayu dan BetawiKalimat pembuka undangan
Teman dekat dan sebayaLucu tapi sopanChat pribadi, bukan di undangan
Orang tua, kerabat, atasanDoa restu, mengundang hadirPesan WhatsApp atau kalimat pembuka
Setelah acara selesaiPenutup dan terima kasihChat terpisah ke tamu

Di pesan WhatsApp

Pesan yang dikirim ke tamu diatur sekali lewat Atur pesan WhatsApp di daftar tamu. Nama tamu, jumlah orang, dan link undangan pribadinya terisi otomatis, jadi kamu tinggal menulis pantunnya, lalu menyisipkan nama dan link lewat tombol yang tersedia. Tiap tamu punya tombol Kirim via WhatsApp: WhatsApp terbuka dengan pesannya sudah terisi, lalu kamu yang menekan kirim. Tidak ada yang terkirim otomatis.

Karena pesannya satu untuk semua tamu, pilih pantun yang aman dibaca siapa saja, misalnya dari kelompok mengundang hadir. Pantun lucu untuk teman kirim sendiri lewat chat biasa, sambil menempelkan link dari Salin link tamu.

Di Kalimat pembuka undangan

Ini satu-satunya kolom paragraf bebas di undangan, dengan batas 300 karakter. Di bawah kolomnya ada penghitung (misalnya 126/300) yang bergerak selama kamu mengetik. Pantun di halaman ini panjangnya 105-141 karakter, sudah dihitung dengan jeda barisnya. Satu sapaan pendek ditambah satu pantun, sekitar 160 karakter, masih muat dengan lega.

Satu pantun cukup. Dua bait nyaris menghabiskan jatah, dan tamu yang harus menggulir jauh hanya untuk menemukan jam acara bisa menyerah di tengah. Baris baru di kolom ini belum tentu tampil terpisah di semua template, jadi cek di pratinjau. Kalau barisnya menyatu, pisahkan dengan garis miring (/).

Kalau kolomnya kamu kosongkan, undangan memakai kalimat bawaan dari template yang dipilih. Kamu juga bisa mengganti isinya kapan saja setelah terbit, dan tamu yang membuka tautan yang sama akan melihat versi terbarunya. Contoh kalimat pembuka lain yang bukan pantun ada di kata-kata pembuka undangan pernikahan.

Template yang cocok untuk pantun

Pantun terbaca paling enak di template yang nadanya sejalan dengan isinya. Untuk pantun doa restu, Lipur (kotak musik, kertas gading dengan kuningan) punya suasana lembut yang pas. Kalau pantunmu bernada santai, misalnya dari kelompok mengundang hadir, Warkop (papan tulis warung kopi, huruf kapur krem) bisa jadi pilihan, tapi judul bagiannya bertema menu kopi, seperti "Sajian Acara", jadi cek dulu di pratinjau. Swanvara belum punya template yang dibangun khusus untuk Melayu atau Betawi, jadi pantunnya yang membawa nuansa itu. Pilih template yang tenang dan biarkan empat barisnya bicara. Semua template bisa kamu buka di galeri template.

Langkah berikutnya

  1. Pilih satu pantun dari kelompok yang sesuai, lalu ganti kata-kata supaya terdengar seperti suaramu.
  2. Pilih template dari galeri template yang nadanya sejalan dengan pantunmu.
  3. Isi form, ganti kalimat contoh di kolom Kalimat pembuka undangan dengan pantunmu, dan lihat hasilnya di pratinjau.
  4. Bayar hanya saat kamu siap menerbitkan. Harganya sekali per undangan: Lite Rp 99rb, Pro Rp 199rb, atau Max Rp 349rb.
  5. Tambahkan tamu, atur pesan WhatsApp-nya, lalu kirim link pribadi ke tiap tamu. RSVP dan ucapan hanya bisa masuk dari link pribadi, bukan dari link umum.

Bacakan pantunmu keras-keras sekali sebelum menerbitkan. Kalau ritmenya enak diucapkan dan rimanya jatuh di tempat yang tepat, berarti sudah jadi.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apa syarat pantun yang benar untuk undangan pernikahan?
Pantun terdiri dari empat baris dengan rima akhir a-b-a-b: bunyi akhir baris pertama sama dengan baris ketiga, dan baris kedua sama dengan baris keempat. Dua baris pertama adalah sampiran, yaitu gambaran dari alam atau keseharian. Dua baris terakhir adalah isi, yaitu pesan yang ingin kamu sampaikan. Tiap baris idealnya 8-12 suku kata supaya enak diucapkan.
Berapa pantun yang pas dipasang di undangan?
Satu bait cukup. Pantun yang ditumpuk dua atau tiga bait membuat tamu harus menggulir jauh untuk menemukan tanggal dan jam acara. Kalau kamu punya beberapa pantun favorit, simpan satu untuk kalimat pembuka undangan dan sisanya untuk pesan WhatsApp.
Apakah pantun muat di kalimat pembuka undangan Swanvara?
Muat. Kolom Kalimat pembuka undangan menerima sampai 300 karakter, dan satu pantun empat baris biasanya hanya 100-140 karakter, sudah termasuk jeda baris. Sapaan satu baris ditambah satu pantun masih jauh di bawah batas. Dua pantun sekaligus bisa menghabiskan hampir seluruh jatahnya, jadi pilih satu.
Bolehkah memakai pantun lucu di undangan pernikahan?
Boleh, tapi tempatnya di pesan chat ke teman dekat, bukan di halaman undangan yang dibaca semua tamu. Pantun lucu aman kalau bahannya situasi yang dikenal semua orang, misalnya ditanya kapan nikah, dan menjauhi tiga hal: uang atau amplop, tekanan untuk hadir, dan keluarga pasangan. Untuk kalimat pembuka undangan, pilih pantun yang hangat dan sopan.
Bolehkah memakai pantun Melayu atau Betawi kalau keluarga kami bukan dari sana?
Boleh selama dipakai dengan hormat: pakai kosakata, bukan logat yang dibuat-buat, dan tanyakan dulu ke orang yang paling paham adat. Kalau salah satu keluarga memang Melayu atau Betawi, mintalah mereka membaca pantunnya sebelum undangan terbit, karena sebagian keluarga punya pantun sendiri yang lebih pantas dipakai.

Baca juga

Siap membuat undangan kalian sendiri?

Pilih template, isi detail acara, dan bagikan tautannya ke tamu. Semuanya bisa selesai dalam satu sore.