Kata-Kata Undangan Pernikahan dari Orang Tua: Contoh & Susunannya
Contoh kata-kata undangan pernikahan dalam suara orang tua: susunan bakunya bagian demi bagian, versi formal, islami, Kristen, dan versi pendek untuk chat.

Undangan pernikahan dari orang tua adalah undangan yang ditulis dengan suara orang tua sebagai pihak yang mengundang, bukan pengantinnya. Ciri paling jelasnya ada di tiga tempat: kalimat pembuka, penyebutan "putra kami" atau "putri kami", dan penutup yang memakai nama keluarga.
Format ini masih jadi bentuk paling umum untuk pernikahan formal di Indonesia, dan alasannya masuk akal. Separuh daftar tamu biasanya memang milik orang tua: kolega kantor ayah, tetangga sebelah rumah, pengurus lingkungan, teman lama yang kenal pengantinnya sejak masih digendong. Orang-orang itu diundang oleh orang tua, bukan oleh pengantin, dan teksnya sebaiknya jujur soal itu.
Halaman ini isinya susunan bakunya, lalu contoh jadi yang tinggal kamu salin dan ganti namanya. Kalau yang kamu cari justru kalimat dalam suara pengantin, kumpulan kata-kata undangan pernikahan mengelompokkannya per gaya.
Apa yang berubah ketika orang tua yang mengundang
Isinya tidak berubah sama sekali: siapa yang menikah, kapan, di mana. Yang bergeser cuma tata bahasanya, dan cuma di tiga titik.
Pembuka: siapa yang bicara. Di undangan pengantin, "kami" berarti pasangan itu. Di undangan orang tua, "kami" berarti ayah dan ibu. Penandanya bukan kata "kami", tapi kata sesudahnya. "Pernikahan kami" berubah jadi "pernikahan putri kami", dan satu kata itu memindahkan seluruh posisi pembicara.
Sebutan: putra kami, putri kami. Nama anak ditulis lengkap, diikuti keterangan urutan kelahiran kalau keluarga memakainya, lalu nama kedua orang tua di bawahnya. Bagian ini yang paling lama diperiksa keluarga besar, jadi kerjakan pelan-pelan. Soal ejaan, gelar, dan urutan penulisannya, ada panduan menulis nama di undangan pernikahan yang membahasnya baris per baris.
Penutup: nama keluarga, bukan nama pengantin. Undangan pengantin ditutup dengan dua nama berdampingan. Undangan orang tua ditutup dengan "Kami yang berbahagia" lalu nama kedua orang tua, atau satu baris kolektif "Keluarga Besar Bapak ... dan Ibu ...".
Satu hal lagi yang mengikuti dengan sendirinya: sapaannya ke tamu. Karena lingkaran orang tua rata-rata lebih senior, teks semacam ini hampir selalu memakai "Bapak/Ibu/Saudara/i", bukan "kamu". Nada itu bukan kekakuan, melainkan bentuk hormat yang memang diharapkan penerimanya.
Susunan bakunya, bagian demi bagian
Sebelum menyalin contoh, ada baiknya melihat kerangkanya utuh. Enam bagian ini yang membentuk undangan resmi dari orang tua, dari baris pertama sampai daftar nama di paling bawah.
| Bagian | Isinya | Contoh kalimat |
|---|---|---|
| Salam pembuka | Sapaan atau ucapan syukur, satu sampai dua kalimat. Menyesuaikan agama dan kebiasaan keluarga. | "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." atau "Dengan memohon rahmat dan ridha Tuhan Yang Maha Esa," |
| Kalimat mengundang | Menyatakan maksud, dengan orang tua sebagai subjeknya. Di sinilah "putra/putri kami" muncul pertama kali. | "kami bermaksud menyelenggarakan resepsi pernikahan putri kami:" |
| Nama pengantin dan orang tua | Nama lengkap kedua mempelai, masing-masing diikuti nama ayah dan ibunya. | "[Nama Lengkap] · Putri kedua dari Bapak [Nama] dan Ibu [Nama]" |
| Waktu dan tempat | Hari, tanggal, jam, dan alamat lengkap. Akad dan resepsi ditulis sebagai dua blok terpisah. | "Sabtu, 14 Maret 2026 · Akad pukul 08.00 WIB · Resepsi pukul 11.00 WIB · [Alamat]" |
| Penutup | Permohonan kehadiran dan doa restu, lalu tanda tangan keluarga. | "Merupakan suatu kehormatan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan hadir. Kami yang berbahagia, Keluarga Besar [Nama]." |
| Turut mengundang | Daftar nama kerabat yang ikut mengundang, huruf lebih kecil, di bagian paling bawah. | "Turut mengundang: Bapak [Nama] & Ibu [Nama]" |
Tidak semua bagian wajib ada. Salam, kalimat mengundang, nama, waktu, dan penutup sudah membentuk undangan yang utuh. Bagian terakhir sifatnya tambahan, dan siapa saja yang pantas masuk ke sana dibahas terpisah di arti turut mengundang di undangan.
Contoh undangan formal dari orang tua
Dua versi di bawah ini netral secara agama, jadi aman dipakai keluarga mana pun. Yang pertama pendek, cukup untuk undangan digital yang tidak ingin terlalu panjang di layar pertama.
Dengan memohon rahmat dan ridha Tuhan Yang Maha Esa, kami bermaksud menyelenggarakan resepsi pernikahan putri kami, [Nama Lengkap Mempelai Wanita], dengan [Nama Lengkap Mempelai Pria].
Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan hadir untuk memberikan doa restu.
Kami yang berbahagia,
Bapak [Nama Lengkap] dan Ibu [Nama Lengkap]
Yang kedua versi lengkap, dipakai kalau undangannya memang resmi dan menyebut kedua keluarga.
Dengan memohon rahmat dan ridha Tuhan Yang Maha Esa, kami bermaksud menyelenggarakan pernikahan putra-putri kami:
[Nama Lengkap Mempelai Wanita]
Putri [pertama/kedua] dari Bapak [Nama Lengkap] dan Ibu [Nama Lengkap]dengan
[Nama Lengkap Mempelai Pria]
Putra [pertama/kedua] dari Bapak [Nama Lengkap] dan Ibu [Nama Lengkap]yang akan dilangsungkan pada:
[hari], [tanggal]
Akad nikah pukul [jam] WIB
Resepsi pukul [jam] WIB sampai selesai
[Alamat lengkap]Tanpa mengurangi rasa hormat, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk berkenan hadir dan memberikan doa restu kepada kedua mempelai. Atas kehadiran dan doanya, kami sampaikan terima kasih.
Kami yang berbahagia,
Keluarga Besar Bapak [Nama Lengkap] dan Keluarga Besar Bapak [Nama Lengkap]
Kalau acaranya hanya resepsi tanpa akad terpisah, hapus satu baris jadwalnya dan sisanya tidak perlu diubah.
Contoh bernuansa islami
Polanya sama, hanya salam dan penutupnya yang berganti. Kalau kamu butuh teks Islami yang utuh dari salam sampai doa, contoh kata-kata undangan pernikahan islami menyusunnya berurutan; dua contoh di sini khusus versi yang diucapkan orang tua.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dengan memohon rahmat dan ridha Allah SWT, kami bermaksud menyelenggarakan akad nikah dan resepsi pernikahan putra kami, [Nama Lengkap], dengan [Nama Lengkap].
Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan hadir untuk memberikan doa restu kepada kedua mempelai.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kami yang berbahagia,
Bapak [Nama Lengkap] dan Ibu [Nama Lengkap]
Versi yang dibuka dengan basmalah dan ditutup dengan doa keluarga:
Bismillahirrahmanirrahim.
Dengan segala kerendahan hati dan rasa syukur atas karunia Allah SWT, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk menghadiri walimatul ursy putri kami:
[Nama Lengkap Mempelai Wanita] binti [Nama Ayah]
dengan
[Nama Lengkap Mempelai Pria] bin [Nama Ayah][hari], [tanggal], pukul [jam] WIB
[Alamat lengkap]Semoga Allah SWT meridhai dan menjadikan keduanya keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Atas kehadiran dan doa restunya, kami ucapkan terima kasih.
Hormat kami,
Keluarga Besar Bapak [Nama Lengkap]
Contoh bernuansa Kristen dan Katolik
Di undangan gerejawi, orang tua biasanya mengundang untuk dua acara sekaligus: ibadah pemberkatan atau Misa, lalu resepsi. Keduanya ditulis sebagai blok terpisah karena sifatnya memang berbeda. Teks gerejawi yang utuh, lengkap dengan pilihan ayat dan beda istilah Katolik dan Protestan, sudah dikumpulkan di contoh kata-kata undangan pernikahan Kristen. Dua contoh di bawah ini memakai kerangka yang sama, tapi dalam suara orang tua.
Atas berkat dan kasih karunia Tuhan Yang Maha Esa, kami bermaksud menyelenggarakan Ibadah Pemberkatan Pernikahan dan resepsi putri kami, [Nama Lengkap], dengan [Nama Lengkap].
Ibadah Pemberkatan
[hari], [tanggal], pukul [jam] WIB
[Nama gereja], [Alamat]Resepsi
[hari], [tanggal], pukul [jam] WIB sampai selesai
[Nama gedung], [Alamat]Doa dan restu Bapak/Ibu/Saudara/i menjadi berkat yang berharga bagi keluarga kami.
Kami yang berbahagia,
Bapak [Nama Lengkap] dan Ibu [Nama Lengkap]
Untuk keluarga Katolik, yang berubah terutama penyebutan acaranya, karena yang dirayakan adalah sakramen:
Dengan penuh syukur atas kasih Tuhan, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk menghadiri Misa Kudus Sakramen Perkawinan putra kami:
[Nama Lengkap Mempelai Pria]
Putra [pertama/kedua] dari Bapak [Nama Lengkap] dan Ibu [Nama Lengkap]dengan
[Nama Lengkap Mempelai Wanita]
Putri [pertama/kedua] dari Bapak [Nama Lengkap] dan Ibu [Nama Lengkap][hari], [tanggal], pukul [jam] WIB
[Nama gereja], [Alamat]Kehadiran dan doa Bapak/Ibu/Saudara/i akan sangat berarti bagi kedua mempelai dan keluarga kami. Tuhan memberkati.
Hormat kami,
Keluarga Besar Bapak [Nama Lengkap] dan Ibu [Nama Lengkap]
Kalau yang mengundang kedua belah pihak keluarga
Ini kasus paling umum di undangan resmi, dan yang paling sering bikin orang berdebat: nama keluarga siapa yang ditulis lebih dulu.
Jawaban jujurnya, tidak ada aturan bakunya. Yang ada cuma kebiasaan, dan kebiasaan yang paling sering dipakai adalah menyebut keluarga tuan rumah lebih dulu. Kalau resepsinya diselenggarakan pihak wanita, nama keluarga wanita di depan. Kalau acaranya di pihak pria, urutannya dibalik. Sebagian keluarga memilih berdasarkan adat, sebagian lagi menyerahkannya ke yang lebih tua. Semua sah.
Beberapa hal kecil yang bikin hasilnya terbaca adil:
- Pakai "putra-putri kami" di kalimat mengundang. Bentuk ini menempatkan kedua keluarga sebagai satu pihak yang mengundang, bukan satu keluarga yang mengundang dan satu yang menumpang.
- Samakan porsi tulisannya. Kalau satu pihak ditulis lengkap dengan gelar dan yang lain cuma nama, ketimpangannya langsung kelihatan. Sepakati formatnya dulu, baru isi namanya.
- Konsisten dari sampul sampai penutup. Urutan yang sudah dipilih dipakai di semua bagian. Nama keluarga wanita di sampul tapi keluarga pria di penutup adalah jenis kekeliruan yang pasti ada yang menyadarinya.
- Putuskan di awal, bukan saat undangan hampir jadi. Ini bahan obrolan lima menit kalau dibicarakan di awal, dan bahan kekakuan berhari-hari kalau muncul di menit terakhir.
Kalau salah satu orang tua sudah tiada atau tidak bisa disebut
Ini bagian yang paling sensitif dari seluruh teks, dan tidak ada rumus yang cocok untuk semua keluarga.
Untuk orang tua yang sudah berpulang, namanya umumnya tetap dicantumkan dengan tanda (Almarhum) atau (Almarhumah); cara penulisan dan peletakannya dibahas di panduan menulis nama di undangan pernikahan.
Untuk situasi lain, orang tua yang berpisah, hubungan yang renggang, atau anak yang dibesarkan kakek dan nenek, yang menolong biasanya baris kolektif. "Keluarga Besar [Nama]" menyebut tuan rumah tanpa memaksa siapa pun mengumumkan hal yang tidak ingin diumumkan. Kalau yang mengundang satu orang tua saja, teksnya juga tetap utuh: ganti "kami" dengan "saya" di kalimat mengundang, atau pertahankan "kami" dengan penutup atas nama keluarga.
Satu saran yang nadanya bukan teknis: tanyakan dulu ke orang yang paling terdampak, dan pakai kalimat yang mereka pilih. Undangan dibaca ratusan orang, dan kalimat yang terasa nyaman buat keluarganya lebih penting daripada kalimat yang paling rapi secara tata bahasa.
Versi pendek untuk WhatsApp
Teks panjang tadi tinggal di dalam undangannya. Yang dikirim lewat chat cukup beberapa baris, terutama karena yang mengirimnya sering orang tua sendiri ke kontaknya masing-masing.
Yth. Bapak/Ibu [Nama]. Dengan hormat, kami mengundang Bapak/Ibu untuk menghadiri resepsi pernikahan putri kami, [Nama Lengkap], pada [hari], [tanggal], di [Alamat]. Undangan lengkapnya dapat dibuka melalui tautan berikut. Atas kehadiran dan doa restunya, kami ucapkan terima kasih.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bapak/Ibu [Nama], kami bermaksud mengundang Bapak/Ibu ke acara pernikahan putra kami, [Nama Lengkap], pada [hari], [tanggal]. Detail acaranya ada di tautan ini. Doa restu Bapak/Ibu sangat kami harapkan.
Salam sejahtera, Bapak/Ibu [Nama]. Dengan sukacita kami mengabarkan pernikahan putri kami, [Nama Lengkap], pada [hari], [tanggal]. Undangan dan detail acaranya ada di tautan berikut. Kehadiran serta doa Bapak/Ibu akan menjadi berkat bagi keluarga kami.
Bapak/Ibu [Nama] yang kami hormati, kami mengundang Bapak/Ibu sekeluarga untuk hadir di pernikahan putra kami, [Nama Lengkap], [hari], [tanggal], di [Alamat]. Tautan undangannya kami sertakan di bawah ini. Terima kasih atas perhatiannya.
Perhatikan yang tidak ada di situ: tidak ada tanggal yang ditulis dua kali, tidak ada susunan acara, tidak ada denah lokasi. Semua itu tinggal di dalam undangannya. Pesan di chat cuma bertugas menyapa dan menempel tautannya.
Menatanya di undangan digital
Undangan dalam suara orang tua punya satu kebutuhan teknis yang khas: nama yang banyak, dan semuanya harus benar. Dua nama mempelai, empat nama orang tua, kadang ditambah gelar dan sederet nama di bagian turut mengundang. Di kartu cetak, satu huruf yang salah berarti mencetak ulang.
Di Swanvara, semua nama itu kamu isi sekali di form, lalu undangannya terbit sebagai halaman web dengan alamatnya sendiri, misalnya keluargawijaya.swanvara.com. Kalau ada ejaan yang perlu diperbaiki setelah undangan disebar, teksnya bisa kamu ubah kapan saja, dan tamu yang membuka ulang tautan lamanya langsung melihat versi yang sudah benar. Alamatnya sendiri permanen di paket Lite dan Pro, jadi pilih sekali dengan tenang; paket Max punya jatah lima kali perubahan.
Tiap tamu juga bisa dapat tautannya sendiri, sehingga undangan menyapa mereka dengan namanya. Untuk daftar tamu yang separuhnya milik orang tua, ini yang bikin undangan tidak terbaca seperti pesan siaran. Ada pula pesan undangan berupa teks siap kirim yang menyertai tautan, dengan tombol "Salin Pesan" di tiap nama tamu, jadi sapaan yang sama tidak perlu diketik ulang puluhan kali. Jawaban RSVP dan jumlah tamu yang mengonfirmasi masuk ke dasbor, dan hanya kamu sebagai pemilik acara yang membacanya di sana.
Soal desainnya, teks resmi begini paling enak dipasangkan dengan template yang tenang. Imprint dengan kesan letterpress dan segel lilinnya terbaca khidmat, Lumiere dengan huruf Bodoni dan aksen emasnya terasa resmi tanpa jadi kaku, dan Aurora yang editorial memberi ruang lapang untuk deretan nama. Ada lebih dari 30 template yang bisa dilihat di galeri template. Bayarnya sekali per undangan, mulai Rp 99 ribu untuk Lite, Rp 199 ribu untuk Pro, dan Rp 349 ribu untuk Max.
Pilih satu contoh di atas, ganti namanya, bacakan sekali ke orang tua, dan teks undangan kalian sudah jadi. Bagian tersulitnya ternyata cuma menyepakati urutan nama.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Apa bedanya undangan pernikahan dari orang tua dan dari pengantin?
- Bedanya ada pada siapa yang berbicara, dan itu terlihat di tiga tempat. Undangan dari pengantin memakai 'pernikahan kami' lalu ditutup dengan nama kedua mempelai. Undangan dari orang tua memakai 'pernikahan putra kami' atau 'putri kami' dan ditutup dengan nama keluarga. Isinya tetap sama, yaitu siapa yang menikah, kapan, dan di mana; yang bergeser hanya tata bahasanya.
- Nama siapa yang ditulis lebih dulu kalau kedua orang tua mengundang?
- Tidak ada aturan tunggal, jadi ini keputusan keluarga, bukan keputusan tata bahasa. Kebiasaan yang paling sering dipakai adalah menyebut keluarga tuan rumah acara lebih dulu, jadi kalau resepsinya diselenggarakan pihak wanita, nama keluarga wanita yang di depan. Yang lebih penting daripada urutannya adalah konsistensi: sekali dipilih, urutan yang sama dipakai di sampul, di bagian nama mempelai, dan di penutup.
- Bagaimana menulis undangan kalau salah satu orang tua sudah meninggal?
- Namanya tetap dicantumkan, dengan tanda (Almarhum) untuk ayah atau (Almarhumah) untuk ibu, sesuai kebiasaan keluarga. Untuk penutup, banyak keluarga memilih satu baris kolektif seperti 'Keluarga Besar [Nama]' supaya tidak ada nama yang terbaca timpang. Tanyakan dulu ke orang tua yang masih ada, karena keputusan ini sangat personal dan tiap keluarga punya caranya sendiri.
- Apakah undangan dari orang tua harus memakai bahasa formal?
- Hampir selalu, dan alasannya praktis, bukan sekadar tradisi. Tamu yang datang lewat lingkaran orang tua rata-rata lebih senior, dan sapaan 'Bapak/Ibu/Saudara/i' adalah nada yang mereka harapkan. Pesan pengantar yang dikirim lewat chat boleh jauh lebih pendek, tapi nadanya tetap sama formalnya, karena yang mengirim biasanya orang tua sendiri ke kontaknya masing-masing.
Baca juga
Kata-kata
Ucapan Anniversary Pernikahan untuk Orang Tua, Pasangan, dan Teman
Contoh ucapan anniversary pernikahan untuk orang tua, pasangan sendiri, teman, dan kolega, lengkap dengan versi islami, versi pendek WhatsApp, dan caption.
Kata-kata
Kata-Kata Undangan Buka Puasa Bersama: Contoh Teks Siap Salin
Contoh kata-kata undangan buka puasa bersama untuk keluarga, kantor, alumni, dan komunitas masjid, plus versi pendek untuk broadcast WhatsApp dan caption story.
Kata-kata
Kata-Kata Undangan Pernikahan Lucu yang Tetap Sopan
Kata-kata undangan pernikahan lucu yang tetap sopan: aturan lapisannya, contoh dari yang aman sampai khusus sahabat, dan candaan yang sebaiknya dihindari.
Siap membuat undangan kalian sendiri?
Pilih template, isi detail acara, dan bagikan tautannya ke tamu — semua bisa selesai dalam satu sore.
