swanvara

Etiket

Arti Sinamot dalam Pernikahan Batak Toba: Marhata Sinamot dan Bedanya dengan Mahar

Arti sinamot dalam adat Batak Toba: siapa memberi dan menerima, apa itu marhata sinamot, bedanya dengan mahar dan uang panai, dan kenapa tidak ada angka baku.

Tim Swanvara
Daftar isi(8)

Sinamot, dalam adat Batak Toba, berarti uang pernikahan yang diberikan pihak paranak (keluarga mempelai pria) kepada pihak parboru (keluarga mempelai wanita), dan jumlahnya disepakati dalam pertemuan keluarga yang disebut marhata sinamot. Pertanyaan "sinamot adalah apa" paling sering datang dari pasangan yang salah satunya bukan orang Batak, dan jawabannya memang dimulai dari pembagian dua pihak itu.

Bayangkan ruang tengah di rumah keluarga pihak wanita pada sore akhir pekan. Dua rombongan duduk berhadapan, orang tua di depan, kerabat di belakang. Calon pengantin sering tidak ikut bicara. Yang menyampaikan maksud kedua keluarga adalah juru bicara adat, dengan kalimat yang runtut dan sopan. Di pertemuan seperti itulah besaran sinamot disepakati: bukan di grup chat, bukan di undangan.

Artikel ini menjelaskan artinya, jalannya marhata sinamot, bedanya dengan mahar dan uang panai, serta kenapa angkanya tidak pernah baku. Penjelasannya umum, sebab detail adat berbeda antarkeluarga dan antardaerah. Kalau ada yang berbeda dari kebiasaan keluarga kalian, ikuti kebiasaan keluarga, dan tanyakan kepada tetua yang memegang adatnya.

Apa itu sinamot dalam adat Batak Toba

Dalam pemahaman yang paling umum, sinamot adalah pemberian dari keluarga pria kepada keluarga wanita dalam rangkaian pernikahan adat. Banyak keluarga memandangnya sebagai bentuk penghargaan kepada orang tua yang membesarkan mempelai wanita, sekaligus tanda kesungguhan pihak pria. Sebagian pemberian itu lazimnya dibagikan kepada kerabat sesuai tata adat, dan sebagian dipakai untuk menopang penyelenggaraan acara.

Dua istilah penting di sini:

  • Paranak: pihak keluarga mempelai pria, yang datang membawa maksud untuk meminang dan memberi sinamot.
  • Parboru: pihak keluarga mempelai wanita, yang menerima kedatangan itu dan ikut menyepakati sinamotnya.

Ada pula orang yang memahami sinamot sebagai "harga" mempelai wanita, sebagian karena sebutan lainnya, tuhor ni boru, memakai kata tuhor (beli). Banyak keluarga Batak menolak anggapan itu. Bagi mereka sinamot adalah penghormatan antarkeluarga, bukan jual beli, dan pengantin tidak dinilai dengan angka. Kalau kalian mendengar kedua pandangan itu, tidak perlu memilih salah satunya. Cukup ketahui bahwa cara keluarga pasangan memaknainya menentukan cara kalian membicarakannya.

Bagaimana marhata sinamot berlangsung

Marhata berarti berbicara atau berunding, jadi marhata sinamot berarti perundingan sinamot. Pertemuannya antara dua keluarga, bukan antara calon pengantin.

Beberapa hal yang lazim:

  • Paranak datang ke pihak parboru, sering ke rumah keluarga wanita, dengan rombongan yang sudah ditentukan.
  • Raja parhata berbicara untuk tiap pihak. Raja parhata adalah juru bicara adat, orang yang menguasai tata bicara dan mewakili keluarganya. Orang tua dan calon pengantin biasanya mendengarkan.
  • Pembicaraan berjalan bertahap. Maksud kedatangan disampaikan dulu, lalu hal-hal yang akan disepakati, termasuk sinamot dan rencana acara adat.
  • Hasilnya menjadi pegangan dua keluarga untuk acara berikutnya. Di banyak keluarga, sebagian sinamot diserahkan saat itu dan sisanya pada pesta adat.

Di mana posisinya dibanding martumpol dan pesta adat

Urutan yang paling sering diceritakan: pembicaraan awal antarkeluarga (di banyak keluarga disebut marhusip, tempat besaran sinamot sering sudah dijajaki), lalu marhata sinamot, lalu martumpol di gereja, lalu pemberkatan dan pesta adat. Martumpol, yang lazim di jemaat Protestan, adalah acara di gereja tempat kedua calon menyatakan niat menikah di hadapan pengurus gereja dan keluarga. Pesta adatnya lazim disebut ulaon unjuk, dan di sanalah rangkaian adat yang panjang berlangsung. Penjelasan istilah acara-acara ini ada di kata-kata undangan pernikahan bahasa Batak.

Jadi marhata sinamot lazimnya sudah selesai sebelum undangan disebar. Namun, urutan dan sebutannya bisa berbeda antarkeluarga dan antarjemaat. Anggap ini gambaran umum, bukan jadwal baku.

Sinamot berbeda dari mahar

Dua hal ini sering tertukar, terutama di keluarga yang beda agama atau beda suku. Mahar adalah kewajiban agama dalam pernikahan Islam. Diberikan mempelai pria kepada mempelai wanita, menjadi milik wanita itu sendiri, dan lazimnya disebutkan saat akad.

Sinamot berada di kategori lain: adat. Pemberiannya dari keluarga ke keluarga, disepakati lewat perundingan, dan tidak menentukan sah tidaknya pemberkatan atau akad. Mayoritas keluarga Batak Toba beragama Kristen, sehingga yang dibicarakan di keluarga mereka adalah sinamot, bukan mahar. Di keluarga Batak Toba yang Muslim, biasanya keduanya dibicarakan: mahar untuk akad, sinamot untuk adat.

Perbandingan di bawah memakai pola yang paling umum, termasuk uang panai' dari adat Bugis-Makassar sebagai pembanding yang sering muncul di percakapan.

AspekSinamot (Batak Toba)Uang panai' (Bugis-Makassar)Mahar (pernikahan Islam)
KedudukanAdatAdatKewajiban agama
Siapa yang memberiKeluarga mempelai pria (paranak)Keluarga mempelai priaMempelai pria
Diberikan kepadaKeluarga mempelai wanita (parboru)Keluarga mempelai wanitaMempelai wanita, menjadi miliknya sendiri
Kapan disepakatiDalam marhata sinamot, sebelum pesta adatDalam rangkaian meminang dan perundingan keluargaDisepakati calon mempelai dan disebutkan saat akad
Siapa yang berundingDua keluarga, lewat raja parhataDua keluargaCalon mempelai dan keluarga

Untuk adat Bugis-Makassar, ada pembahasan lengkapnya di arti uang panai'. Pola yang sama muncul di sana: adat dan kewajiban agama dibicarakan dalam satu rangkaian, tetapi kedudukannya berbeda.

Kenapa tidak ada angka baku

Pertanyaan berikutnya hampir selalu soal besarnya. Jawabannya tidak memuaskan tetapi jujur: tidak ada angka baku, dan artikel ini sengaja tidak menyebut nominal apa pun.

Besarnya disepakati dua keluarga, dan banyak hal ikut menentukan. Garis keluarga, kedudukan adat, tingkat pendidikan, kemampuan masing-masing pihak, dan seberapa besar pesta adat yang direncanakan, semuanya bisa memengaruhi. Angka yang beredar di internet atau di cerita orang hampir selalu berasal dari satu keluarga pada satu waktu, jadi tidak bisa dipakai sebagai patokan.

Karena itu, beberapa langkah kecil lebih berguna daripada mencari angka:

  1. Tanyakan dulu kepada orang tua dan tetua bagaimana keluarga kalian menjalankannya, tanpa menyebut angka lebih dulu.
  2. Libatkan raja parhata sejak awal. Merekalah yang tahu cara membawakannya dengan benar.
  3. Bedakan tiga hal di percakapan: sinamot (adat), pemberkatan (agama), dan biaya pesta. Di banyak keluarga, sinamot ikut menopang biaya pesta, jadi pastikan semua pihak paham bagian mana menanggung apa.
  4. Catat hasil kesepakatan supaya kedua keluarga memegang pemahaman yang sama sampai hari pesta.
  5. Jaga agar pembicaraan tetap di lingkaran keluarga. Hasilnya cukup diketahui yang berkepentingan.

Sebagian keluarga memilih jumlah yang besar sebagai penghormatan, sebagian memilih yang sederhana demi meringankan kedua pihak. Keduanya lahir dari pertimbangan keluarga masing-masing, dan tidak ada yang perlu diolok-olok.

Bagaimana dengan Karo dan Mandailing

Tidak semua keluarga Batak memakai kata sinamot. Batak Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing, dan Angkola punya istilah, urutan acara, dan sebutan pihak keluarga sendiri. Sebagian orang Karo dan Mandailing bahkan tidak memakai sebutan Batak untuk diri mereka. Keluarga Mandailing, yang sebagian besar Muslim, umumnya menjalankan akad, sehingga mahar ikut dibicarakan.

Kalau keluarga kalian dari salah satu daerah itu, jangan memakai istilah Toba begitu saja. Tanyakan sebutan yang dipakai keluarga sendiri. Gambaran tentang marga, acara, dan nuansa undangan masing-masing ada di inspirasi undangan pernikahan Karo dan inspirasi undangan pernikahan Mandailing.

Apakah sinamot masuk undangan

Biasanya tidak. Marhata sinamot adalah urusan dua keluarga, jadi tamu tidak perlu tahu dan undangan tidak perlu memuatnya. Yang dibaca tamu adalah nama dan marga kalian, nama orang tua, acara, tanggal, jam, dan tempat.

Kerangka itu cocok dengan form Swanvara. Form-nya punya dua blok acara. Blok pertama bisa dipilih sebagai Pemberkatan Protestan (atau Misa Kudus untuk keluarga Katolik), blok kedua bisa memakai label sendiri, misalnya "Ulaon Unjuk" atau "Pesta Adat". Martumpol biasanya dihadiri keluarga dekat dan diberitahukan terpisah, jadi tidak perlu dipaksakan masuk. Marga ditulis lengkap di kolom nama (untuk mempelai wanita lazimnya didahului "br.", singkatan dari boru), dan nama orang tua beserta marganya bisa ditulis di baris keterangan singkat tiap mempelai.

Soal tampilan, satu batasan perlu disebut: Swanvara belum punya template Batak. Template bernuansa daerah yang ada, seperti Tenun dari Sumba atau Tongkonan dari Toraja, berasal dari adat lain, jadi tidak cocok dipinjam untuk undangan Batak. Karena itu tulisan ini tidak merekomendasikan template tertentu. Pilih kerangka yang tenang dari galeri template, lalu biarkan marga dan nama orang tua kalian yang membawa nuansa adatnya. Panduan memakai unsur ulos dan gorga tanpa salah pinjam ada di inspirasi undangan pernikahan Batak.

Langkah berikutnya di Swanvara

Setelah marhata sinamot selesai dan kedua keluarga sepakat soal acara, kalian bisa mulai menyusun undangannya.

  1. Buka galeri template, lalu pilih yang paling tenang dan paling nyaman memberi ruang untuk nama panjang beserta marga.
  2. Isi form: nama dan marga kedua mempelai beserta foto masing-masing, foto cover, tanggal, jam, dan tempat untuk pemberkatan serta pesta adat.
  3. Lihat preview-nya dan cek apakah kata-kata bawaan template cocok dengan acara kalian. Form bisa diisi dan dilihat preview-nya sebelum membayar.
  4. Bayar saat sudah yakin dan siap menerbitkan. Pembayaran adalah langkah terakhir, dengan paket mulai dari Rp 99rb. Detailnya ada di halaman harga.
  5. Setelah terbit, tambahkan tamu lalu kirim link pribadi lewat WhatsApp. RSVP dan ucapan dikirim tamu dari link pribadinya masing-masing.

Sinamot disepakati di meja dua keluarga. Yang kalian kirim kepada tamu adalah undangan yang jelas tentang siapa, kapan, dan di mana.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Sinamot adalah apa dalam adat Batak?
Dalam adat Batak Toba, sinamot berarti uang pernikahan yang diberikan pihak paranak (keluarga mempelai pria) kepada pihak parboru (keluarga mempelai wanita). Jumlah dan tata caranya tidak ditetapkan sepihak. Keduanya dibicarakan dan disepakati dalam pertemuan yang disebut marhata sinamot, dengan raja parhata sebagai juru bicara tiap pihak.
Apa itu marhata sinamot?
Marhata sinamot adalah pertemuan dua keluarga untuk membicarakan dan menyepakati sinamot. Pihak paranak datang kepada pihak parboru, dan kedua belah pihak biasanya diwakili raja parhata. Pertemuan ini urusan keluarga, bukan acara tamu undangan, dan lazimnya digelar sebelum martumpol dan pesta adat. Urutan persisnya bisa berbeda antarkeluarga.
Apakah sinamot sama dengan mahar?
Tidak. Mahar adalah kewajiban agama dalam pernikahan Islam, diberikan mempelai pria kepada mempelai wanita dan menjadi miliknya sendiri. Sinamot adalah adat Batak Toba, diberikan keluarga pria kepada keluarga wanita, dan disepakati dalam perundingan dua keluarga. Keduanya berbeda kedudukan, jadi keluarga yang menjalankan adat Batak tidak otomatis memakai istilah mahar.
Berapa besar sinamot dalam pernikahan Batak?
Tidak ada angka baku. Besarnya disepakati dua keluarga dalam marhata sinamot dan berbeda dari satu keluarga ke keluarga lain. Karena itu artikel ini sengaja tidak menyebut nominal: angka dari satu keluarga hampir tidak pernah berlaku untuk keluarga lain.
Apakah sinamot ditulis di undangan pernikahan?
Tidak lazim. Sinamot dibicarakan di lingkaran dua keluarga, jadi tamu tidak perlu tahu dan undangan tidak perlu memuatnya. Yang tampil di undangan adalah nama dan marga, acara pemberkatan, pesta adat, tanggal, jam, dan tempat.

Baca juga