swanvara

Kata-kata

Kata-kata Undangan Pernikahan Bahasa Batak Toba dan Artinya

Contoh kata-kata undangan pernikahan bahasa Batak Toba dan Indonesia berdampingan, cara menulis marga, boru, dan gelar, serta arti martumpol dan ulaon unjuk.

Tim Swanvara
Kata-kata Undangan Pernikahan Bahasa Batak Toba dan Artinya

Kata-kata undangan pernikahan bahasa Batak umumnya menempatkan marga sesudah nama kedua mempelai, menyebut nama orang tua lengkap dengan marganya, lalu menuliskan rangkaian acara adat di samping pemberkatan dan resepsi. Bahasa yang dipakai sebagian besarnya tetap bahasa Indonesia, sementara bahasa Batak muncul di sapaan, di blok nama, dan di nama acara.

Sebelum masuk ke contohnya, satu hal perlu diluruskan lebih dulu. Kalau bagian ini keliru, sisanya ikut keliru.

"Bahasa Batak" itu beberapa bahasa, bukan satu

Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, Angkola, dan Pakpak adalah bahasa yang berbeda, bukan logat dari satu bahasa yang sama. Kosakatanya berbeda, sapaannya berbeda, dan istilah adatnya berbeda. Orang Karo tidak otomatis paham kalimat Toba.

Teks yang beredar di internet dengan label "bahasa Batak" hampir selalu Batak Toba, karena penuturnya paling banyak. Kalau keluargamu Karo atau Simalungun, menyalinnya mentah-mentah bukan cuma salah bahasa, tapi salah alamat.

Contoh di tulisan ini ditulis dalam Batak Toba dan diberi label begitu. Kalau keluargamu bukan Toba, ambil kerangkanya, ganti kalimatnya dengan bahasa keluargamu, lalu minta yang lebih tua memeriksanya.

Marga adalah bagian yang paling menentukan

Di undangan Batak, yang dibaca duluan bukan nama depan, tapi marga.

Marga menempatkan setiap tamu terhadap keluarga yang mengundang. Lewat dalihan na tolu, seseorang berdiri sebagai hula-hula (pihak pemberi istri), boru (pihak penerima), atau dongan tubu (semarga). Begitu marga kedua mempelai dan marga orang tuanya terbaca, tamu tahu di posisi mana dia berdiri.

Jadi marga bukan hiasan di belakang nama. Konsekuensinya untuk teks undangan:

  • Tulis marga lengkap. Jangan dijadikan inisial, jangan dikecilkan di bawah nama depan.
  • Perempuan Batak Toba ditulis dengan boru, misalnya "Deborah boru Simanjuntak", biasa disingkat "br.". Karo memakai merga untuk laki-laki dan beru untuk perempuan.
  • Nama kedua orang tua ikut lengkap dengan marganya. Dari sanalah garis hubungan ditarik.
  • Ibu ditulis dengan marga ayahnya sendiri, bukan marga suaminya. "Rusmini boru Panjaitan", bukan "Rusmini Sitorus". Sebagian keluarga menulis dua-duanya, "Ny. Rusmini Sitorus boru Panjaitan"; yang tidak lazim adalah menghapus marga asalnya.
  • Gelar gereja seperti St. (Sintua) dan Pdt. (Pendeta) dipakai kalau memang ada, dan jangan dihapus demi tampilan yang ringkas.

Satu catatan kecil yang sering bikin bingung: kata boru punya dua pekerjaan. Di depan marga perempuan, artinya dia anak perempuan dari marga itu. Di dalam dalihan na tolu, boru menyebut pihak penerima istri. Sama kata, beda posisi. Untuk urutan nama dan penulisan gelar secara umum, cara menulis nama di undangan pernikahan mengurainya lebih pelan.

Kerangka undangannya

Susunan yang paling sering dipakai, dari atas ke bawah:

  1. Sapaan pembuka. "Horas" biasanya berdiri sendiri di paling atas. Keluarga Kristen sering menambahkan ayat atau satu kalimat syukur, keluarga Muslim memakai salam. Ini keputusan keluarga, bukan keputusan template.
  2. Nama kedua mempelai beserta marganya, dengan ruang yang lega.
  3. Nama orang tua kedua pihak beserta marganya, ditulis sejajar.
  4. Rangkaian acara, tiap sesi dengan tanggal, jam, dan lokasinya masing-masing.
  5. Penutup. Permohonan kehadiran dan doa restu, lalu "Mauliate" atau "Horas" sekali lagi.

Yang membedakan dari undangan Indonesia pada umumnya ada di nomor 4. Pemberkatan dan pesta adat bisa jatuh di jam, gedung, bahkan hari yang berbeda, dan tidak semua tamu diundang ke semua sesi. Menumpuknya di satu blok tanggal memaksa tamu menebak sendiri sesi mana yang untuk dia.

Istilah acara yang sering muncul

Istilah-istilah ini Batak Toba. Tabelnya menjelaskan apa yang dimaksud tiap kata, bukan kapan urutannya, karena urutan dan cakupannya berbeda dari satu keluarga ke keluarga lain.

IstilahApa yang dimaksudBiasanya ditulis di undangan?
MarhusipPembicaraan awal antara dua pihak keluargaTidak
Marhata sinamotPembicaraan soal sinamot, bagian dari kesepakatan adat antara kedua pihakJarang
MartumpolAcara di gereja tempat kedua calon meneguhkan janjinya di hadapan jemaat, terpisah dari hari pemberkatanKadang, dan sering pakai undangan sendiri
Pamasu-masuonPemberkatan pernikahan di gereja. Disebut juga pasu-pasu parbagasonHampir selalu
Ulaon unjukPesta adat pernikahannya. Sering ditulis "pesta unjuk" atau "pesta adat" sajaHampir selalu
MangulosiPemberian ulos kepada pengantin oleh pihak hula-hula, bagian dari rangkaian pestaBiasanya tidak sebagai acara terpisah

Karo, Simalungun, Mandailing, dan Pakpak punya nama sendiri untuk rangkaian mereka, dan istilahnya tidak bisa dipinjam silang. Aturan praktisnya satu: tulis di undangan hanya sesi yang tamunya memang kamu undang ke sana.

Contoh undangan dwibahasa

Perhatikan pembagian tugasnya. Bahasa Batak Toba memegang sapaan, marga, dan nama acara. Bahasa Indonesia memegang informasinya, supaya tidak ada tamu yang salah paham soal jam dan tempat.

HORAS

Tu angka Hula-hula, Dongan Tubu, Boru dohot Ale-ale nami.
Kepada hula-hula, dongan tubu, boru, dan para sahabat.

Dengan hati penuh syukur, kami mengabarkan pernikahan putra dan putri kami:

Ruben Sitorus
Putra dari St. Marolop Sitorus dan Rusmini boru Panjaitan

Deborah boru Simanjuntak
Putri dari Bonar Simanjuntak dan Tiur boru Hutagalung

Pamasu-masuon (pemberkatan)
Sabtu, 14 Maret 2026, pukul 09.00 WIB
HKBP [Nama Jemaat], [alamat lengkap]

Ulaon Unjuk (pesta adat)
Sabtu, 14 Maret 2026, pukul 12.00 WIB
Gedung Serbaguna Harapan, Jalan Melati No. 40, Medan

Kami menantikan kehadiran dan doa restu Amang, Inang, dan seluruh keluarga.

Sai horas ma hita saluhutna.
Semoga kita semua senantiasa dalam keadaan baik.

Mauliate godang.

HORAS

Contoh ini memakai rangkaian yang lazim di keluarga Kristen Batak Toba. Kalau keluargamu Muslim, tukar bagian pemberkatan dengan akad dan sapaannya dengan salam. Kerangkanya tetap sama, dan marga tetap bagian yang paling menentukan.

Nama acara sengaja ditulis dalam bahasa Batak dengan padanan Indonesianya dalam kurung. Tamu yang paham langsung tahu ini acara apa, tamu yang tidak paham tetap tidak tersesat.

Versi ringkas untuk broadcast WhatsApp

Yang ini dibaca sambil jalan, jadi panjangnya harus muat satu layar. Marga tetap lengkap, itu bagian yang tidak boleh dipangkas.

Horas, Amang/Inang.

Kami mengundang Amang/Inang ke pernikahan putra dan putri kami, Ruben Sitorus dan Deborah boru Simanjuntak.

Pamasu-masuon: Sabtu, 14 Maret 2026, 09.00 WIB, HKBP [Nama Jemaat].
Ulaon Unjuk: Sabtu, 14 Maret 2026, 12.00 WIB, Gedung Serbaguna Harapan.

Detail lengkap, denah lokasi, dan konfirmasi kehadiran ada di sini:
sitorus-simanjuntak.swanvara.com

Mauliate godang atas doa dan kehadirannya.
Horas!

Untuk kerabat yang lebih tua, kirim satu per satu dengan namanya disebut, bukan pesan yang sama ke semua orang. Selisihnya kelihatan.

Horas dan padanannya

"Horas" bukan padanan persis dari "halo". Isinya harapan sehat dan selamat, jadi wajar kalau dia muncul dua kali, di pembuka dan di penutup.

BahasaSapaanTerima kasih
Batak TobaHorasMauliate
SimalungunHorasDiatei tupa
KaroMejuah-juahBujur

Pakpak memakai "Njuah-njuah" sebagai sapaan. Mandailing dan Angkola juga memakai "Horas". Kalau dua keluarga berasal dari daerah Batak yang berbeda, pilih satu sapaan untuk seluruh undangan atau sebut keduanya di baris pembuka. Yang canggung adalah mencampurnya setengah-setengah.

Yang sering keliru

  • Marga disingkat. "R. Sitorus" menghapus justru bagian yang paling dicari tamu.
  • Marga ibu ditulis mengikuti suaminya. Perempuan Batak membawa marga ayahnya seumur hidup, dan di undangan itu yang berlaku.
  • "Boru" hilang di nama mempelai perempuan. "Deborah Simanjuntak" terbaca seperti pola penulisan laki-laki.
  • Menerjemahkan template Indonesia kata per kata. Hasilnya kalimat yang secara tata bahasa mungkin lolos, tapi tidak ada orang Batak yang benar-benar mengucapkannya.
  • Mencampur istilah antardaerah. "Mejuah-juah" di undangan Toba, atau nama acara Toba dipakai untuk rangkaian Karo, langsung ketahuan.
  • Menulis semua sesi adat padahal tamunya tidak diundang ke sana. Undangan jadi panjang, dan sebagian tamu datang di jam yang salah.

Minta yang lebih tua membacanya dulu

Ini bukan saran sopan, tapi langkah wajib. Sebelum undangan dikirim, minta orang tua, tulang, atau siapa pun di keluarga yang masih memakai bahasanya sehari-hari untuk membacanya sekali.

Alasannya bukan cuma tata bahasa. Urutan nama, siapa yang tercantum sebagai pengundang, penulisan gelar gereja, dan nama tiap sesi acara sering ditentukan kesepakatan keluarga, bukan kamus. Kalau ada tetua adat yang biasa dimintai pendapat, dialah yang paling tepat memutuskan bagian adatnya.

Kalau tidak ada yang bisa memeriksa, ambil jalan yang jujur: sapaan, marga, dan nama acara dalam bahasa Batak, sisanya bahasa Indonesia.

Menempatkannya di undangan digital

Undangan Batak isinya banyak. Dua blok nama lengkap dengan marga, dua pasang nama orang tua, dan sering lebih dari satu sesi acara. Di kertas semuanya berebut tempat. Di layar, tiap blok bisa dapat ruangnya sendiri.

Di Swanvara kamu mengisi satu form: nama, tanggal, acara, lokasi beserta tautan maps, foto, lalu memilih template. Bagian acara menampung lebih dari satu sesi dengan tanggal, jam, dan lokasinya masing-masing, jadi pemberkatan dan pesta adat tidak perlu ditumpuk. Link per tamu bikin undangan menyapa tiap orang dengan namanya, lengkap dengan marganya, dan untuk hula-hula sapaan bernama terasa jauh lebih pantas. Siapa yang sudah menjawab dan berapa orang yang akan datang kamu baca sendiri di dashboard.

Jam acara adat memang sering bergeser. Isi undangan bisa kamu ubah kapan saja, dan tamu yang membuka link lama melihat versi yang sudah diperbarui. Undangan juga tidak punya masa kedaluwarsa; halamannya online sampai kamu sendiri yang mematikannya.

Satu hal diputuskan di awal: alamatnya. Kalau kamu ingin marga masuk ke subdomain, misalnya sitorus-simanjuntak.swanvara.com, tentukan sekarang. Di paket Lite (Rp 99rb) dan Pro (Rp 199rb) subdomain tidak bisa diganti setelah undangan terbit, sementara Max (Rp 349rb) memberi lima kali penggantian. Mengganti alamat juga mematikan alamat lama, tanpa pengalihan.

Soal template, jujur saja: tidak ada template khusus adat Batak di Swanvara. Yang ada lebih dari 30 template, sebagian bernuansa daerah lain (Tenun berangkat dari ikat Sumba, Tongkonan dari Toraja) sehingga justru sebaiknya dihindari di sini. Yang paling aman adalah template netral. Aurora menaruh serif tenang di atas palet kertas dan tinta, dan blok nama dapat panggung penuh, berguna kalau marga mau tampil besar. Buka galeri template, lalu lihat mana yang paling terasa seperti keluargamu. Untuk sisi visualnya, ulos, gorga, dan takaran tiga warnanya, ada inspirasi undangan pernikahan Batak. Kalau kerangka bahasa Indonesianya belum tersusun, kata-kata undangan pernikahan punya contoh yang bisa langsung dipakai.

Yang bikin undangan terasa Batak bukan seberapa banyak bahasa Batak yang kamu pakai. Marga yang lengkap, nama acara yang tepat, dan satu "Horas" yang kamu tulis dengan sadar sudah cukup.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Bagaimana menulis marga di undangan pernikahan Batak?
Tulis marga lengkap setelah nama, jangan disingkat jadi inisial. Perempuan Batak Toba ditulis dengan boru, misalnya Deborah boru Simanjuntak, sering disingkat br. Karo memakai beru untuk perempuan dan merga untuk laki-laki. Nama kedua orang tua ikut lengkap dengan marganya, dan ibu ditulis dengan marga ayahnya sendiri, bukan marga suaminya. Dari susunan itulah tamu tahu posisi mereka terhadap keluarga yang mengundang.
Apa itu martumpol dan pamasu-masuon?
Dua-duanya istilah Batak Toba. Martumpol menyebut acara di gereja tempat kedua calon meneguhkan janjinya di hadapan jemaat, digelar terpisah dari hari pemberkatan dan sering memakai undangan sendiri. Pamasu-masuon, disebut juga pasu-pasu parbagason, adalah pemberkatan pernikahannya. Keduanya berbeda dari ulaon unjuk, yaitu pesta adatnya. Penamaan dan rinciannya berbeda antarkeluarga, antargereja, dan antardaerah, jadi ikuti yang dipakai keluargamu.
Apakah undangan pernikahan Batak harus memakai bahasa Batak?
Tidak harus, dan kenyataannya sebagian besar tidak. Undangan Batak yang beredar umumnya berbahasa Indonesia, dengan bahasa Batak muncul di tempat yang memang menentukan: sapaan Horas di pembuka, marga di blok nama, nama acara seperti pamasu-masuon dan ulaon unjuk, lalu Mauliate di penutup. Teks Batak penuh yang setengah diingat lebih berisiko terdengar keliru daripada beberapa kata yang kamu pahami betul artinya.
Apa perbedaan penulisan undangan Batak Toba, Karo, dan Simalungun?
Ketiganya bahasa yang berbeda, bukan logat dari satu bahasa. Sapaannya berbeda, Horas di Toba dan Simalungun, Mejuah-juah di Karo. Ucapan terima kasihnya juga, Mauliate di Toba, Diatei tupa di Simalungun, Bujur di Karo. Penulisan nama ikut berbeda, karena Karo memakai merga dan beru di tempat Toba memakai marga dan boru. Istilah acaranya pun punya nama sendiri dan tidak bisa saling ditukar.

Baca juga

Siap membuat undangan kalian sendiri?

Pilih template, isi detail acara, dan bagikan tautannya ke tamu — semua bisa selesai dalam satu sore.