Urutan Adat Pernikahan Betawi: dari Ngedelengin sampai Pulang Tige Ari, dan Jam yang Ditentukan Palang Pintu
Urutan adat pernikahan Betawi dari ngedelengin, tande putus, malam pacar, palang pintu, sampai pulang tige ari, dan cara menulis jamnya di undangan digital.

Daftar isi(18)
- Urutan dalam satu tabel
- Sebelum hari akad
- Ngedelengin
- Ngelamar
- Bawa tande putus
- Masa dipiare
- Siraman
- Malam pacar
- Hari akad dan sesudahnya
- Rombongan tiba dan buka palang pintu
- Roti buaya
- Akad nikah
- Resepsi di puade
- Negor dan pulang tige ari
- Yang masih dipakai keluarga Betawi sekarang
- Palang pintu menentukan jam di undangan
- Menatanya di Swanvara
- Langkah berikutnya
Urutan adat pernikahan Betawi, dalam praktiknya, berjalan dari ngedelengin dan ngelamar, lewat bawa tande putus, masa dipiare, siraman dan malam pacar, sampai akad nikah dengan buka palang pintu, resepsi di puade, dan negor serta pulang tige ari sesudahnya.
Bayangkan seorang tetangga menerima link undangan dengan jam akad pukul 09.00. Ia datang pukul 08.45 dengan harapan bisa menonton palang pintu yang selalu ia dengar ramainya, lalu mendapati rombongan mempelai pria sudah masuk dan pintu sudah terbuka. Palang pintu tidak menunggu tamu yang datang tepat waktu menurut jam akad. Itulah yang membuat urutan adat ini menentukan cara kalian menulis jam di undangan.
Tulisan ini menyusun urutannya, mencatat siapa yang hadir di tiap langkah, lalu menunjukkan bagian mana yang masuk undangan. Untuk nuansa visual dan ikon Betawi, ada inspirasi undangan pernikahan Betawi.
Urutan dalam satu tabel
Sumber berbeda dalam urutan dan nama sebagian langkah, jadi tabel ini adalah kerangka yang paling sering dijumpai. Kolom terakhir adalah usul kami untuk undangan, bukan aturan adat.
| Langkah | Apa yang terjadi | Siapa yang hadir | Tamu atau keluarga saja |
|---|---|---|---|
| Ngedelengin | Pihak pria mengamati dan mengenal calon mempelai wanita | Perantara dan keluarga dekat | Keluarga saja |
| Ngelamar | Pinangan resmi dari keluarga pria | Orang tua, sesepuh, dan kerabat dekat kedua pihak | Keluarga saja |
| Bawa tande putus | Penyerahan tanda ikatan dan kesepakatan tanggal | Kedua keluarga dan sesepuh | Keluarga saja |
| Masa dipiare | Calon mempelai wanita dirawat menjelang hari-H | Calon mempelai wanita dan perempuan keluarga | Keluarga saja |
| Siraman | Calon mempelai dimandikan dengan air dan kembang | Keluarga inti dan sesepuh | Keluarga saja |
| Malam pacar | Tangan dan kaki calon mempelai wanita diberi pacar | Keluarga dan teman dekat | Keluarga saja |
| Rombongan tiba dan buka palang pintu | Rombongan pria dihadang, berbalas pantun, silat, lalu pintu dibuka | Keluarga, tetangga, dan tamu yang datang lebih awal | Boleh tamu |
| Akad nikah | Ijab kabul | Keluarga inti, saksi, penghulu, kerabat dekat | Sesuai pilihan kalian |
| Resepsi di puade | Pengantin bersanding di pelaminan, tamu memberi selamat | Semua tamu | Tamu |
| Negor | Mempelai pria membujuk mempelai wanita yang masih malu, di malam-malam setelah akad | Kedua mempelai | Keluarga saja |
| Pulang tige ari | Pengantin pulang berkunjung beberapa hari setelah menikah | Keluarga | Keluarga saja |
Sebelum hari akad
Ngedelengin
Ngedelengin berarti melihat dan mengamati. Pihak pria, sering lewat perantara atau kerabat perempuan, mengenal calon mempelai wanita dan keluarganya sebelum ada pinangan. Suasananya santai, bahkan sering tidak disebut sebagai acara. Karena itu tidak ada yang perlu ditulis di undangan.
Ngelamar
Keluarga pria datang untuk meminang, kali ini lewat pertemuan resmi. Kedua pihak mengutus orang yang pandai berbicara, dan jawabannya kadang diberikan di hari yang sama, kadang menyusul. Ini pertemuan sesepuh dan keluarga dekat, bukan acara tamu.
Bawa tande putus
Tande putus adalah tanda ikatan: sejak hari itu kedua keluarga sepakat bahwa pernikahan akan berjalan. Di banyak penjelasan, tanggal akad dan hal-hal yang akan dibawa pihak pria dibicarakan di sini. Barang bawaannya dibahas terpisah di perbedaan seserahan dan hantaran. Di sebagian keluarga, langkah ini digabung dengan ngelamar pada hari yang sama.
Masa dipiare
Dipiare berarti dirawat atau dipelihara. Dalam beberapa hari atau pekan menjelang akad, calon mempelai wanita dirawat, dijaga, dan dikurangi kegiatannya, sambil menerima perawatan tradisional dari perempuan keluarga atau dukun manten. Masa ini punya kemiripan dengan pingitan, yang dibahas di arti pingitan sebelum menikah.
Siraman
Calon mempelai wanita, dan di sebagian keluarga juga calon mempelai pria di rumahnya sendiri, dimandikan dengan air yang dicampur kembang, dituangkan oleh orang tua, sesepuh, atau dukun manten. Di sebagian keluarga siraman diiringi shalawat. Perbandingannya dengan siraman Jawa dan acara malam setelahnya ada di perbedaan siraman dan midodareni.
Malam pacar
Pada malam pacar, tangan dan kaki calon mempelai wanita diberi pacar (inai). Di sebagian keluarga malam ini disertai pengajian atau khataman, dan jadi malam terakhir sebelum akad yang dihabiskan bersama keluarga. Siraman dan malam pacar sering dipadatkan dalam satu rangkaian dari siang sampai malam.
Hari akad dan sesudahnya
Rombongan tiba dan buka palang pintu
Rombongan mempelai pria berangkat dalam iring-iringan menuju rumah mempelai wanita. Sampai di depan, mereka dihadang jagoan dari pihak wanita, dan jagoan yang dibawa pihak pria maju menghadapinya. Keduanya berbalas pantun, lalu beradu silat, dan di banyak keluarga ada pula lantunan sike atau pembacaan ayat Al-Qur'an. Setelah pihak pria dianggap lulus, barulah pintu dibuka. Arti dan suasananya dijelaskan di bagian tanya jawab inspirasi undangan pernikahan Betawi.
Roti buaya
Roti buaya biasanya sudah ada di antara bawaan rombongan, dan di banyak keluarga diserahkan setelah pintu dibuka atau menjelang akad. Letaknya dalam urutan berbeda antarkeluarga. Makna roti buaya dibahas di tulisan inspirasi yang sama.
Akad nikah
Ijab kabul dilakukan di hadapan penghulu, saksi, dan keluarga. Sebagian keluarga menyelenggarakannya di rumah, sebagian di masjid atau gedung. Sesudahnya kedua mempelai menerima doa dari orang tua dan keluarga.
Resepsi di puade
Puade adalah pelaminan tempat pengantin bersanding. Tamu datang, memberi selamat, dan menikmati jamuan. Inilah acara yang paling luas dihadiri, dan hampir selalu jadi blok kedua di undangan. Soal kapan tamu sebaiknya datang, lihat jam berapa datang ke undangan pernikahan.
Negor dan pulang tige ari
Dua langkah ini paling bervariasi. Negor (dari kata tegur) berlangsung pada malam-malam setelah akad: mempelai wanita masih malu dan menjaga jarak, dan mempelai pria berusaha menyapa serta membujuknya, di banyak keluarga sambil memberi uang tegor. Pulang tige ari adalah kunjungan pengantin ke rumah keluarga sekitar tiga hari setelah menikah. Sumber berbeda soal siapa yang berkunjung ke siapa, dan banyak keluarga sekarang tidak lagi menjalankan negor sebagai acara tersendiri. Tanyakan kepada sesepuh keluarga kalian, dan kabari yang memang terlibat lewat pesan pribadi.
Yang masih dipakai keluarga Betawi sekarang
Hanya sedikit keluarga yang menjalani seluruh daftar di atas, dan itu wajar. Rumah dan jadwal kerja berubah, banyak keluarga Betawi menikah lintas daerah, dan akad serta resepsi sering digelar di gedung.
Pola yang paling sering terlihat:
- Ngedelengin dan ngelamar menyatu menjadi satu pertemuan lamaran.
- Bawa tande putus dijalani, tetapi digabung dengan lamaran atau dibuat singkat.
- Masa dipiare menyusut dari beberapa pekan menjadi beberapa hari perawatan.
- Siraman dan malam pacar dipadatkan dalam sehari menjelang akad.
- Palang pintu dan roti buaya tetap dipertahankan karena tamu menyukainya, kadang dengan versi lebih pendek.
- Negor jarang lagi dijalankan sebagai acara tersendiri, dan pulang tige ari sering menjadi kunjungan keluarga biasa, tanpa nama.
Tulis yang benar-benar keluarga kalian jalani, bukan daftar lengkap dari internet.
Palang pintu menentukan jam di undangan
Di banyak adat, jam di undangan cukup jam akad. Di pernikahan Betawi yang memakai palang pintu, tamu yang ingin menonton harus sudah ada di tempat sebelum rombongan mempelai pria tiba. Akad baru dimulai setelah pintu terbuka, dan jedanya bisa lebih lama daripada yang dibayangkan.
Karena itu, ada dua jam yang berbeda:
- Jam kedatangan rombongan: tamu yang ingin menonton palang pintu perlu hadir sebelum ini.
- Jam ijab kabul: tamu yang hanya ingin menyaksikan akad bisa datang menjelang jam ini.
Di undangan, pilih satu jam untuk blok Akad Nikah. Kalau kalian ingin tamu menonton palang pintu, isi jam mulai blok itu dengan jam kedatangan rombongan, lalu pakai "Sampai selesai" sebagai jam selesai. Kalau palang pintu cukup untuk keluarga, isi dengan jam akad saja. Sebagian keluarga, terutama yang menggelar akad lebih dulu di masjid atau KUA, memindahkan palang pintu ke awal resepsi; kalau begitu, jam kedatangan rombongan menjadi jam mulai blok Resepsi.
Satu kalimat di kalimat pembuka undangan, yang batasnya 300 karakter, bisa menjelaskan sisanya, misalnya: "Tamu yang ingin menyaksikan palang pintu, mohon hadir sebelum rombongan mempelai pria tiba pukul 08.00." Contoh nada kalimat pembuka lain ada di kata-kata pembuka undangan pernikahan.
Satu batas perlu kalian tahu: satu undangan Swanvara memuat tepat dua blok acara, jadi palang pintu tidak bisa jadi blok sendiri. Itu sebabnya satu kalimat di pembuka dan jam yang benar di blok Akad Nikah sudah cukup. Pembagian untuk rangkaian yang lebih panjang ada di undangan untuk rangkaian acara pernikahan, dan susunan acara untuk panitia sebaiknya ditulis terpisah, seperti di susunan acara pernikahan.
Menatanya di Swanvara
Blok pertama adalah Akad Nikah, lengkap dengan jam kedatangan (atau jam akad), tempat, dan link Google Maps. Blok kedua adalah Resepsi, dengan jam dan tempatnya sendiri. Kalau akad dan resepsi di gedung yang sama, link maps cukup disalin di kedua blok.
Belum ada template Betawi di Swanvara. Kalau kalian ingin bingkai yang netral dan dekat dengan tradisi kebaya bordir, Anggun cocok. Undangannya dibuka dari meja penjahit bordir: kain voal putih gading dijepit pemidangan kayu, inisial nama kalian tinggal satu jahitan, dan nama tamu tertulis dengan pensil biru. Setelah tamu menekan Buka Undangan, kain terbentang dan menjadi cover berfoto kalian. Tiap acara tampil sebagai manset dengan jam di lubang mata, tanggal pada label, tempat pada secarik kertas pola, dan tombol link maps. Kalimat pembuka kalian muncul di cover, jadi kalimat tentang palang pintu langsung terbaca.
Anggun tidak dibuat khusus untuk Betawi, dan itu justru yang membuatnya aman: kalian bisa menambahkan nuansa Betawi lewat foto dan kata-kata sendiri. Keluarga yang ingin melihat pilihan lain bisa membuka galeri template.
Langkah berikutnya
- Tanyakan kepada sesepuh dan juru rias langkah mana yang akan keluarga jalani, dan jam rombongan tiba.
- Pilih template, misalnya Anggun, lalu isi form. Blok pertama Akad Nikah dengan jam kedatangan rombongan, blok kedua Resepsi.
- Tulis satu kalimat tentang palang pintu di kalimat pembuka.
- Lihat preview-nya di ponsel. Form bisa diisi dan dilihat dulu sebelum membayar; pembayaran adalah langkah terakhir sebelum undangan terbit. Paketnya Lite Rp 99.000, Pro Rp 199.000, atau Max Rp 349.000, dibayar sekali per undangan, dan detailnya ada di halaman harga.
- Setelah terbit, tambahkan tamu dan kirim link pribadi masing-masing lewat tombol "Kirim via WhatsApp". RSVP dan buku tamu hanya bisa diisi dari link pribadi itu.
Jauh sebelum ada undangan di ponsel, adat Betawi sudah punya cara menyambut tamu. Undangan cukup memastikan tamu tiba di tempat yang benar, pada jam yang membuat mereka tidak ketinggalan pintu yang sedang dihadang.
Template
Template yang dibahas di artikel ini
Buka halamannya untuk melihat contoh lengkap dan detail desainnya.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Apa urutan adat pernikahan Betawi?
- Garis besarnya: ngedelengin, ngelamar, bawa tande putus, masa dipiare, siraman, malam pacar, akad nikah dengan buka palang pintu, resepsi di puade, lalu negor dan pulang tige ari. Sumber dan keluarga berbeda dalam urutan dan nama sebagian langkah, jadi pakai urutan ini sebagai kerangka, lalu cocokkan dengan kebiasaan keluarga dan sesepuh kalian.
- Prosesi Betawi mana yang masuk undangan digital?
- Biasanya dua: akad nikah (yang membawa palang pintu) dan resepsi. Ngedelengin, ngelamar, bawa tande putus, masa dipiare, siraman, malam pacar, dan pulang tige ari adalah acara keluarga, jadi lebih pas dikabarkan langsung lewat pesan pribadi, sedangkan negor urusan kedua mempelai sendiri.
- Jam berapa tamu sebaiknya datang kalau ada palang pintu?
- Sebelum rombongan mempelai pria tiba. Di banyak keluarga, palang pintu berlangsung di depan rumah atau gedung sebelum akad dimulai, jadi tamu yang ingin menontonnya perlu sudah duduk atau berdiri di tempat saat rombongan datang. Tulis jam kedatangan itu sebagai jam mulai blok Akad Nikah, bukan jam ijab kabul. Kalau palang pintu digelar di awal resepsi, jam itu menjadi jam mulai blok Resepsi.
- Apakah palang pintu dan roti buaya wajib ada?
- Tidak ada aturan yang mewajibkan semuanya. Banyak keluarga Betawi memadatkan atau melewatkan sebagian langkah, termasuk menggelar palang pintu dengan ringkas. Yang berlaku adalah kesepakatan kedua keluarga bersama sesepuh yang memandu.
- Bisakah undangan digital memuat palang pintu sebagai acara tersendiri?
- Satu undangan di Swanvara memuat tepat dua blok acara, jadi palang pintu tidak mendapat blok sendiri. Caranya, jadikan jam kedatangan rombongan sebagai jam mulai blok Akad Nikah (atau blok Resepsi, kalau palang pintu digelar di awal resepsi), lalu tulis satu kalimat tentang palang pintu di kalimat pembuka undangan (maksimal 300 karakter).
Baca juga
Etiket
Adik Menikah Duluan Melangkahi Kakak: Restu, Pelangkah, dan Cara Membicarakannya
Adik menikah duluan melangkahi kakak: cara meminta restu, isi pelangkah dalam adat Jawa dan Betawi, kalimat yang tidak melukai, dan nama kakak di undangan.
Etiket
Urutan Adat Pernikahan Bugis: dari Mammanu'-manu' sampai Mapparola, dan Mana yang Masuk Undangan
Urutan adat pernikahan Bugis dari mammanu'-manu' sampai mapparola, siapa yang hadir di tiap tahap, bedanya antardaerah, dan mana yang masuk undangan digital.
Etiket
Urutan Upacara Pernikahan Adat Bali: dari Memadik sampai Mejauman, dan Siapa yang Hadir di Tiap Tahap
Urutan upacara pernikahan adat Bali dari memadik, ngekeb, mekala-kalaan, mewidhi widana sampai mejauman, siapa memimpin, dan siapa yang hadir di tiap tahap.
