swanvara

Etiket

Cara Menulis Pangkat di Undangan Pernikahan: TNI, Polri, dan ASN, dari Urutan sampai Purnawirawan

Cara menulis pangkat di undangan pernikahan: letaknya sebelum nama, urutan dengan gelar, kenapa NRP dan NIP tidak perlu, dan penulisan purnawirawan.

Tim Swanvara
Daftar isi(7)

Pada undangan pernikahan pribadi, pangkat biasanya ditulis sebelum nama bersama korpsnya, gelar akademik menyusul di belakang nama, dan nomor NRP atau NIP tidak dicantumkan. Sisanya, singkat atau lengkap, mengikuti kebiasaan satuan dan keluarga.

Bayangkan seorang ayah berpangkat Letnan Kolonel membaca draf undangan anaknya. Namanya ditulis "Bapak Hendra", padahal di lingkungannya semua orang menyapanya dengan pangkat. Atau sebaliknya: seluruh barisan nama dipenuhi singkatan sampai tamu dari luar satuan tidak tahu mana nama dan mana pangkat. Dua-duanya bisa dicegah dengan keputusan kecil yang diambil di awal.

Satu hal perlu dinyatakan terang: tidak ada aturan resmi yang diterbitkan untuk mengatur isi undangan pernikahan pribadi. Yang ada hanya kebiasaan, dan kebiasaan itu berbeda antarsatuan, antardaerah, dan antarkeluarga. Panduan ini merangkum pola yang paling umum, bukan menetapkan yang baku.

Tiga tempat pangkat muncul

Pangkat tidak hanya muncul di satu tempat. Ada tiga titik di undangan, dan sebaiknya kalian putuskan satu per satu.

1. Kolom nama mempelai. Kalau salah satu atau kedua mempelai berpangkat, tanyakan apakah pangkat ikut ditulis. Banyak yang memilih menulis nama polos di undangan, karena pangkat melekat pada tugas dan bukan pada acara keluarga. Ada juga yang mencantumkannya karena itu bagian dari identitas yang dikenal keluarga besar. Dua pilihan itu sama sahnya.

2. Baris orang tua. Di sinilah pangkat paling sering muncul, karena orang tua mempelai yang berpangkat umumnya ingin namanya ditulis lengkap. Bentuknya mengikuti pola "putra dari Bapak ... dan Ibu ...". Pangkat ditaruh tepat sebelum nama sang ayah atau ibu. Soal perlu tidaknya nama orang tua dicantumkan sama sekali, ada pembahasannya di perlukah nama orang tua di undangan.

3. Sapaan tamu. Tamu berpangkat juga ingin dipanggil sebagaimana mestinya. Bagian ini punya aturan main sendiri karena menyangkut cara menulis nama tamu, dan dibahas di bagian tersendiri di bawah.

Kalau kalian belum yakin untuk titik mana pun, tanyakan langsung ke yang bersangkutan. Itu lebih cepat daripada menebak, sekaligus tanda hormat yang paling jelas.

Urutan pangkat, nama, dan gelar

Polanya sama di hampir semua lingkungan: pangkat, korps, nama, gelar akademik di belakang. Gelar haji seperti H. atau Hj. mengikuti kebiasaan umum, yaitu di depan nama. Aturan lengkap gelar akademik dan keagamaan ada di bagian "Bin, binti, dan gelar" pada cara menulis nama di undangan pernikahan, jadi tidak diulang di sini.

Contoh berikut memakai nama rekaan. Kolom bentuk lengkap cocok untuk nama orang tua atau tamu yang dihormati. Kolom bentuk singkat cocok kalau ruangnya terbatas.

Matra atau instansiBentuk lengkapBentuk singkat
TNI ADLetnan Kolonel Infanteri Hendra Wijaya, S.H.Letkol Inf. Hendra Wijaya, S.H.
TNI ALKolonel Laut (P) Bagas PratamaKolonel Laut (P) Bagas Pratama
TNI AUMayor Penerbang Rudi HartonoMayor Pnb. Rudi Hartono
PolriKomisaris Besar Polisi Sri Lestari, S.H., M.H.Kombes Pol. Sri Lestari, S.H., M.H.
ASNDrs. Bambang Hartono, M.Si.Drs. Bambang Hartono, M.Si.

Tiga catatan tentang tabel ini.

  • Korps ikut ditulis bila lazim dipakai. Di lingkungan TNI, korps seperti Inf. (Infanteri) atau Pnb. (Penerbang) biasa mengikuti pangkat. Di Polri, penanda seperti "Pol." mengikuti pangkat singkat. Kalau tidak yakin ejaannya, minta yang bersangkutan mengetik sendiri namanya.
  • ASN umumnya tidak menulis pangkat atau golongan. Pada pegawai sipil, yang lazim muncul di undangan adalah gelar akademik, sedangkan jabatan ditulis terpisah bila perlu. Cara menulis jabatan dibahas di bagian "Tulis nama dan jabatannya dengan benar" pada etika mengundang pejabat ke pernikahan.
  • Pilih satu bentuk. Entah lengkap atau singkat, pakai yang sama di semua tempat. Pangkat yang lengkap di baris orang tua tapi singkat di sapaan tamu terkesan kurang teliti.

Kenapa NRP dan NIP tidak perlu

Kadang ada yang bertanya apakah NRP atau NIP harus ikut ditulis, terutama bila undangan dibuat mirip surat dinas. Jawabannya tidak, dan ada tiga alasan.

Pertama, nomor itu bukan bagian dari nama. Tamu yang membaca undangan ingin tahu siapa yang mengundang dan kapan acaranya, bukan nomor kepegawaiannya.

Kedua, nomor identitas kepegawaian adalah data pribadi. Undangan digital bisa dibuka siapa saja yang memegang link-nya, jadi anggap saja apa pun yang tertulis di halaman itu bisa dibaca orang yang tidak kalian kenal. Halamannya tidak diindeks mesin pencari, tetapi tidak dilindungi kata sandi.

Ketiga, nomor itu memperpanjang barisan nama tanpa ada gunanya. Di layar ponsel, satu baris nama sudah mudah patah ke baris berikutnya. Menambah deretan angka hanya memperburuknya.

Aturan yang sama berlaku untuk nomor telepon dan alamat rumah pribadi. Kalau tamu perlu menghubungi seseorang, itu urusan pesan yang kalian kirim bersama link, bukan isi halaman undangan.

Purnawirawan dan pensiunan

Orang tua yang sudah pensiun biasanya tetap ingin pangkat terakhirnya disebut. Penulisan yang paling umum menaruh keterangan (Purn.) setelah korps atau setelah pangkat, lalu nama:

  • Kolonel Inf. (Purn.) Hendra Wijaya, S.H.
  • Kombes Pol. (Purn.) Sri Lestari, M.H.

Untuk ASN yang sudah pensiun, sebagian keluarga memakai "(Pensiunan)" atau cukup menulis nama dengan gelar akademik. Sebagian lain justru tidak menambahkan keterangan apa pun. Semua bentuk itu lazim.

Ada juga keluarga yang memilih menulis "Bapak" atau "Ibu" tanpa pangkat setelah pensiun, karena menganggap pangkat melekat pada masa tugas. Tidak ada yang keliru. Yang berhak memutuskan adalah orangnya sendiri, jadi tanyakan sebelum menulis. Kalau acara kalian akan dihadiri banyak rekan seangkatan dari satuan yang sama, biasanya mencantumkan pangkat terakhir lebih disukai.

Untuk undangan pensiun itu sendiri, yaitu acara perpisahan dari dinas dan bukan pernikahan anak, ada pedoman terpisah di cara membuat undangan pensiun digital.

Kalau kedua mempelai sama-sama berpangkat

Pasangan yang sama-sama berseragam makin sering ditemui. Pertanyaannya, pangkat siapa yang ditulis lebih dulu, dan apakah pangkat yang lebih tinggi harus di depan.

Tidak ada urutan baku. Pegangan paling sederhana: ikuti urutan nama yang sudah kalian sepakati bersama kedua keluarga, lalu tulis keduanya dengan bentuk yang sama.

  • Kalau satu mempelai memakai pangkat lengkap, mempelai satunya juga lengkap.
  • Kalau satu memakai korps, satunya juga memakai korps.
  • Kalau salah satu memilih menulis nama polos, sebaiknya keduanya polos, supaya tidak terbaca sebagai pembeda derajat.

Hal yang sering dilupakan adalah panjang. Dua pangkat lengkap ditambah dua gelar akademik bisa membuat baris nama jadi tiga baris di layar ponsel. Kalau itu terjadi, bentuk singkat biasanya lebih rapi, dan nama orang tua bisa tetap memakai bentuk lengkap di baris keterangan.

Pangkat tamu tidak diatur oleh template atau oleh kolom khusus. Tamu berpangkat ditulis seperti tamu lain: nama dan sapaannya kalian ketik sendiri di daftar tamu. Jadi pangkat tamu ikut tertulis di nama tamu itu.

Prinsipnya tetap sama. Pangkat sebelum nama, gelar di belakang, bentuk yang konsisten. Contohnya "Kompol Dedi Santoso, S.H." atau "Letkol Inf. Agus Prasetyo". Kalau tamu itu pensiunan, tulis pangkat terakhir dengan "(Purn.)" seperti pada bagian sebelumnya.

Nama yang kalian ketik itu tampil di sapaan pada link personal tamu tersebut. Kalau tamu itu mengirim ucapan, nama yang sama juga muncul di buku tamu dan terbaca oleh tamu lain, jadi pastikan ejaan pangkatnya sudah benar. Cara menulis nama tamu secara umum, dari panggilan hormat sampai pasangan dan keluarga, ada di cara menulis nama tamu di undangan digital.

Menatanya di Swanvara

Dua kolom nama mempelai bisa diisi nama lengkap apa adanya. Yang dibatasi hanya kolom nama panggilan, yaitu maksimal 30 karakter. Pangkat dan gelar mempelai, kalau kalian memutuskan memakainya, ditulis langsung di kolom nama. Kalau pangkat ditaruh di depan nama, isi juga kolom nama panggilan. Tanpa itu, nama pendek yang dipakai di judul, hashtag, saran alamat undangan, dan sebagian template ditebak dari kata pertama nama lengkap, sehingga yang muncul bisa "Letkol", bukan "Bagas".

Nama orang tua tidak punya kolom sendiri. Tulis di "Keterangan singkat" tiap mempelai, misalnya "putra kedua dari Kolonel Inf. (Purn.) Hendra Wijaya dan Ibu Siti". Karena kalimatnya kalian ketik sendiri, pangkat dan korps yang mau dipakai bisa persis seperti yang diminta orang tua.

Nama panjang bisa patah ke baris berikutnya di layar kecil, dan hasilnya berbeda untuk tiap template. Jadi sebelum membayar, buka preview-nya di ponsel dan lihat di mana nama kalian patah. Formulirnya bisa diisi dan di-preview dulu. Pembayaran baru dilakukan di langkah terakhir sebelum undangan dipublikasikan, dengan pilihan paket yang bisa kalian lihat di halaman harga.

Urutan kerjanya begini:

  1. Pilih template di galeri template.
  2. Isi nama kedua mempelai, nama panggilannya, dan "Keterangan singkat" dengan pangkat serta nama orang tua sesuai kesepakatan keluarga.
  3. Buka preview, periksa nama panjang dan baris orang tua di layar ponsel, lalu rapikan.
  4. Bayar saat kalian sudah siap memublikasikan.
  5. Tambahkan tamu dengan nama lengkap beserta pangkatnya, lalu kirim link personal ke masing-masing.

Pangkat adalah bagian kecil dari undangan, tapi bagi yang menyandangnya, itu hal pertama yang dicari matanya. Satu bentuk yang konsisten dari baris nama sampai sapaan tamu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa kalian menanyakannya lebih dulu.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Bagaimana cara menulis pangkat TNI di undangan pernikahan?
Pangkat ditulis sebelum nama, diikuti korps bila ada, lalu nama, lalu gelar akademik di belakang nama. Contohnya 'Letnan Kolonel Inf. Bagas Pratama, S.H.'. Untuk undangan pribadi tidak ada aturan resmi yang diterbitkan, jadi tanyakan dulu apakah yang bersangkutan atau satuannya punya kebiasaan penulisan, lalu pakai satu bentuk yang sama di seluruh undangan.
Apakah pangkat ditulis lengkap atau disingkat di undangan?
Dua-duanya dipakai. Bentuk lengkap seperti 'Komisaris Polisi' terbaca lebih resmi dan cocok untuk nama orang tua atau tamu yang dihormati. Bentuk singkat seperti 'Kompol' lebih ringkas dan cocok untuk nama mempelai di layar ponsel. Pilih satu bentuk, lalu pakai konsisten di semua tempat pangkat muncul.
Perlukah mencantumkan NRP atau NIP di undangan pernikahan?
Tidak perlu. NRP dan NIP adalah nomor identitas kepegawaian, bukan bagian dari nama, dan tidak membantu tamu mengenali siapa yang mengundang. Karena halaman undangan digital bisa dibuka siapa saja yang punya link-nya, nomor itu sebaiknya tidak ikut ditulis.
Bagaimana menulis pangkat purnawirawan di undangan?
Yang umum, pangkat terakhir tetap ditulis lalu diberi keterangan '(Purn.)' setelah korps atau setelah pangkat, misalnya 'Kolonel Inf. (Purn.) Hendra Wijaya'. Sebagian keluarga memilih menulis 'Bapak' saja. Tanyakan ke yang bersangkutan, karena ini soal kebiasaan, bukan aturan.
Kalau kedua mempelai sama-sama berpangkat, siapa yang pangkatnya ditulis lebih dulu?
Tidak ada urutan baku. Cukup ikuti urutan nama yang sudah kalian sepakati, lalu tulis kedua pangkat dengan bentuk yang sama, sama-sama lengkap atau sama-sama singkat. Yang dijaga adalah keseimbangan, bukan siapa yang pangkatnya lebih tinggi.

Baca juga