swanvara

Etiket

Arti Janur Kuning Melengkung di Pernikahan Jawa, Beserta Tarub, Tuwuhan, dan Kembar Mayang

Arti janur kuning melengkung, tarub, tuwuhan, dan kembar mayang di hajatan Jawa: apa yang ditandai masing-masing dan siapa yang biasanya memasangnya.

Tim Swanvara
Daftar isi(9)

Janur kuning yang melengkung di depan rumah menandakan ada hajatan pernikahan di sana. Tarub, tuwuhan, dan kembar mayang melengkapinya: peneduh tempat tamu duduk, tanda harapan yang diikat di gerbang, dan sepasang rangkaian daun untuk upacara temu pengantin.

Bayangkan kalian pulang kampung dan di mulut gang sudah berdiri bambu tinggi berhias janur yang ujungnya melengkung. Tidak ada yang perlu menjelaskan. Tetangga seberang sudah tahu ada yang akan menikah, bahkan sebelum kartu undangannya sampai. Dari tanda itu lahir ungkapan "janur sudah melengkung", yang artinya kurang lebih: sudah terlambat, orangnya sudah menikah.

Halaman ini menguraikan empat tanda yang sering disebut bersamaan itu, satu per satu: apa yang ditandai, siapa yang memasang, dan di mana letaknya. Praktiknya berbeda antardaerah dan antarkeluarga, jadi anggap ini pola umum, bukan aturan baku.

Janur kuning: tanda yang terlihat dari jalan

Janur adalah daun kelapa yang masih muda, berwarna kuning pucat kehijauan dan mengilap di sisi atasnya. Daun itu mudah dilipat, dianyam, dan dipotong, sehingga dari dulu jadi bahan hiasan hajatan.

Bentuk yang paling dikenal ialah janur melengkung. Di banyak tempat, wujudnya sebatang bambu panjang yang dihias rangkaian janur dan ujungnya dibiarkan melengkung, ditancapkan di mulut gang atau di depan rumah. Ada juga yang membuatnya sebagai gapura: dua batang bambu di kiri dan kanan jalan masuk dibengkokkan ke tengah, dihias janur, lalu diikat sampai ujungnya bertemu. Gapura sederhana itu dilewati tamu sebelum sampai ke halaman.

Fungsinya terutama sebagai kabar. Janur dipasang di tempat yang paling gampang terlihat, dan siapa pun yang lewat langsung paham. Soal makna yang lebih dalam, ada yang mengartikan janur sebagai jatining nur (cahaya sejati) dan membacanya sebagai doa untuk cahaya dan keselamatan, ada juga yang menganggapnya sekadar tradisi. Keluarga yang kalian tanya kemungkinan punya penafsirannya sendiri, dan itu wajar.

Siapa yang memasang? Biasanya keluarga tuan rumah, dibantu saudara dan tetangga yang ikut rewang. Janur umumnya dipasang menjelang hari hajatan, bersamaan dengan tarub.

Janur melengkung bukan penjor

Di Bali ada benda yang sekilas mirip: penjor, bambu tinggi yang ujungnya merunduk, dihias janur dan dipasang di depan rumah, terutama saat Galungan dan Kuningan. Penjor juga bisa didirikan saat upacara pernikahan Bali, tetapi penjor adalah sarana upacara Hindu yang biasanya dilengkapi sanggah kecil dan sesajen di kakinya, sedangkan janur melengkung di hajatan Jawa terutama berfungsi sebagai kabar. Kalau kalian mencari yang itu, pembahasannya ada di inspirasi undangan pernikahan Bali. Halaman ini khusus soal tradisi Jawa.

Tarub: peneduh tempat hajatan berlangsung

Tarub berupa tenda atau peneduh yang didirikan untuk hajatan. Rangkanya bambu, atapnya anyaman daun kelapa yang disebut bleketepe, dan ikatannya sering memakai tali ijuk. Di bawahnya tamu duduk, makan, dan menunggu giliran bersalaman.

Memasang tarub dalam tradisi Jawa adalah acara tersendiri. Ada keluarga yang menyertainya dengan doa dan sesaji kecil, ada yang menggelarnya sederhana tanpa upacara. Dalam tata cara Solo dan Yogyakarta, bleketepe pertama biasanya dipasang oleh ayah calon pengantin perempuan, dibantu sang ibu, sebagai tanda keluarga sudah siap. Yang pasti, begitu tarub berdiri, rumah itu resmi sedang punya hajat.

Karena ukurannya besar, tarub hampir selalu pekerjaan bersama. Keluarga menentukan kapan dan seluas apa, lalu saudara dan tetangga mengerjakannya. Sekarang banyak yang memakai tenda sewaan, tetapi nama "tarub" tetap dipakai untuk peneduhnya.

Tuwuhan: harapan yang diikat di gerbang

Tuwuhan berasal dari kata tuwuh, yang berarti tumbuh. Isinya hasil tanaman yang dipasang di kiri dan kanan pintu masuk atau tiang gerbang. Yang paling umum:

  • Pisang raja satu tandan yang sudah matang, sering lengkap dengan batang pohonnya, dengan harapan hidup yang terpandang dan berkecukupan.
  • Cengkir gading, kelapa muda berkulit gading, yang sering dibaca sebagai pikiran yang mantap (kencenging pikir).
  • Tebu wulung, tebu berkulit ungu tua, yang sering dibaca sebagai hati yang mantap (anteping kalbu).
  • Padi, tanda kemakmuran dan harapan akan rezeki yang cukup.
  • Dedaunan seperti beringin, kluwih, dadap srep, dan alang-alang, yang di banyak keluarga ikut dirangkai, masing-masing dengan maknanya sendiri.

Penafsirannya bervariasi dari satu keluarga ke keluarga lain, tetapi arahnya sama: tuwuhan adalah doa agar rumah tangga yang baru tumbuh dan berbuah. Karena itu tuwuhan ditaruh di pintu, tempat semua tamu melintas.

Yang memasang biasanya orang tua calon pengantin perempuan, sesepuh, atau orang yang diberi tugas oleh keluarga, sering bersamaan dengan pemasangan tarub.

Kembar mayang: sepasang rangkaian untuk temu pengantin

Kembar mayang paling mudah dibedakan dari tiga lainnya karena bukan bagian dari bangunan, melainkan sepasang rangkaian daun, janur, dan bunga yang ditancapkan pada batang pisang dan diberi hiasan kecil. Kata kembar berarti sepasang, mayang merujuk pada bunga pinang.

Pasangan ini dipakai dalam upacara temu pengantin (panggih). Di banyak keluarga, rangkaiannya dibawa pengiring dari pihak masing-masing atau diletakkan di dekat pelaminan, lalu setelah acara selesai biasanya dibuang di perempatan jalan atau dilarung, menurut kebiasaan keluarga.

Karena rumit, kembar mayang jarang dibuat sendiri oleh keluarga. Biasanya orang yang paham tata caranya, misalnya juru rias atau sesepuh, yang merangkainya.

Empat tanda itu, dibandingkan

Urutannya kira-kira begini. Tarub dan tuwuhan biasanya dipasang bersamaan dalam satu rangkaian, satu atau dua hari sebelum hari pernikahan. Janur melengkung berdiri di mulut gang sekitar waktu yang sama, dan kembar mayang baru muncul pada hari upacara. Setelah hajatan selesai, semuanya dibongkar. Tidak satu pun dibuat untuk bertahan lama.

TandaBerupa apaKapan dan di manaSiapa yang biasa memasang
Janur melengkungBambu berhias janur yang ujungnya melengkung, kadang sepasang membentuk gapuraDi mulut gang atau gerbang, menjelang hajatanKeluarga dan tetangga
TarubPeneduh bambu beratap anyaman daun kelapaDi halaman atau jalan depan rumahKeluarga, saudara, tetangga
TuwuhanPisang raja, kelapa muda, tebu, padi, dedaunanTerikat di tiang gerbang atau pintu masukOrang tua pengantin perempuan, sesepuh, atau orang yang ditunjuk
Kembar mayangSepasang rangkaian janur dan daunDalam upacara temu pengantin, dekat pelaminanJuru rias atau sesepuh

Kalau pernikahannya di rumah, tandanya jadi berguna lagi

Tanda-tanda ini lahir dari hajatan yang digelar di rumah, tempat tetangga ikut membantu dan seluruh gang tahu ada acara. Kalau pernikahan kalian digelar di gedung, ceritanya lain: tidak ada gang yang perlu diberi tahu, dan janur lebih sering jadi hiasan.

Untuk pernikahan di rumah, urusan petunjuk arah tamu justru kembali penting: gang yang mana, rumah yang mana, parkir di mana. Beberapa hal praktis soal itu dibahas di undangan digital untuk pernikahan di rumah.

Janur di undangan digital: template Janur

Tanda yang selama ini kalian lihat dari jalan bisa jadi pembuka undangan. Di template Janur, tamu berdiri di gerbang rumah pada pagi hari. Dua tiang bambu condong ke dalam, ada papan "Selamat Datang di Pernikahan" dengan nama dan tanggal kalian, dan tuwuhan terikat di tiang gerbang.

Saat tamu menekan tombol "Buka Undangan", tali ijuk menarik kedua ujung bambu sampai bertemu, lalu gapura janur terbentuk dan tamu seolah melangkah masuk. Setelah itu ia berjalan di bawah tarub, petak demi petak, sampai ke meja penerima tamu dan buku tamu di ujungnya. Kalau ponsel tamu diatur untuk mengurangi gerakan, undangan langsung terbuka tanpa animasi.

Yang ada di template ini adalah janur, tarub, dan tuwuhan. Kembar mayang tidak digambarkan di sana. Suasananya hajatan Jawa yang meriah dan akrab, bukan suasana keraton. Warnanya putih kapur, hijau daun, dan kuning janur. Kalau kalian menyukai warna itu untuk undangan lain, ada ulasan undangan warna kuning.

Upacaranya tidak harus adat. Di form, kalian memilih jenis upacara, misalnya Akad Nikah atau Pemberkatan Protestan, dan nama itulah yang tertulis di papan penunjuk arah. Untuk gambaran lebih luas soal pernikahan Jawa, baca inspirasi undangan pernikahan Jawa. Kalau istilah lain di undangan keluarga masih membingungkan, ada arti istilah undangan pernikahan.

Langkah berikutnya di Swanvara

  1. Buka galeri template, lalu lihat Janur bersama beberapa pilihan lain.
  2. Isi form dengan nama, tanggal, tempat, dan foto. Kalian bisa mengisi dan melihat preview-nya dulu sebelum membayar.
  3. Cek bagaimana tulisan di papan dan tombolnya terbaca untuk acara kalian.
  4. Bayar saat sudah yakin untuk menerbitkan: Lite Rp 99rb, Pro Rp 199rb, atau Max Rp 349rb, sekali per undangan. Perbandingannya ada di halaman harga.
  5. Kirim link personal ke tiap tamu lewat daftar tamu di dashboard.

Janur yang melengkung di mulut gang tetap kabar paling jujur bahwa ada yang menikah. Undangan digital hanya perlu mengantar kabar itu sampai ke ponsel orang yang tidak lewat di gang kalian.

Template

Template yang dibahas di artikel ini

Buka halamannya untuk melihat contoh lengkap dan detail desainnya.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apa arti janur kuning melengkung di depan rumah?
Janur kuning melengkung di depan rumah, atau di mulut gang menuju rumah, menandakan bahwa di sana sedang ada hajatan pernikahan. Wujudnya bambu panjang berhias daun kelapa muda yang ujungnya melengkung, atau di beberapa tempat dua bambu yang dibengkokkan sampai ujungnya bertemu membentuk gapura. Karena tanda itu terlihat dari jalan, orang sekampung langsung tahu tanpa perlu diberi kabar.
Apa maksud ungkapan "janur sudah melengkung"?
Dalam percakapan sehari-hari, ungkapan itu berarti orang yang dimaksud sudah menikah atau akan segera menikah, jadi sudah terlambat untuk mengejarnya. Ungkapan ini lahir dari kebiasaan memasang janur melengkung di depan rumah yang menggelar hajatan.
Apa beda janur, tarub, tuwuhan, dan kembar mayang?
Janur adalah daun kelapa muda yang dianyam atau dilipat sebagai hiasan. Tarub adalah peneduh tempat hajatan, dibuat dari bambu dengan atap anyaman daun kelapa. Tuwuhan adalah hasil tanaman seperti pisang raja, kelapa muda, tebu, dan padi yang diikat di gerbang. Kembar mayang adalah sepasang rangkaian janur dan dedaunan yang dipakai dalam upacara temu pengantin.
Siapa yang biasanya memasang tarub dan janur?
Keluarga tuan rumah yang memutuskan, lalu dikerjakan bersama saudara dan tetangga yang ikut membantu (rewang), sering dengan arahan sesepuh. Kembar mayang biasanya dirangkai orang yang paham tata caranya, misalnya juru rias atau sesepuh keluarga.
Apakah janur dipakai di pernikahan Bali juga?
Janur memang dipakai dalam upacara Bali, tetapi benda yang melengkung di depan rumah Bali adalah penjor, bambu tinggi yang ujungnya merunduk. Bentuknya bisa mirip. Bedanya, penjor adalah sarana upacara Hindu, sedangkan janur melengkung di hajatan Jawa terutama berfungsi sebagai penanda.

Baca juga