Larangan Pernikahan Adat Jawa: Jilu, Kakak Adik Menikah dalam Satu Tahun, dan Arah Rumah
Larangan pernikahan adat Jawa yang sering ditanyakan: jilu, anak pertama dengan anak pertama, kakak adik menikah satu tahun, dan cara keluarga menyikapinya.

Daftar isi(15)
- Seberapa mengikat larangan pernikahan adat Jawa?
- Jilu: anak pertama dengan anak ketiga
- Dari mana asalnya, menurut cerita yang beredar
- Anak pertama dengan anak pertama
- Yang biasa dilakukan keluarga
- Kakak dan adik menikah dalam satu tahun
- Dari mana asalnya, menurut cerita yang beredar
- Yang biasa dilakukan keluarga
- Arah rumah: ngalor-ngulon dan kawan-kawannya
- Dari mana asalnya, menurut cerita yang beredar
- Yang biasa dilakukan keluarga
- Membicarakannya dengan orang tua
- Ringkasan: kepercayaan, isinya, jalan keluarnya
- Kalau tanggal bergeser setelah bicara dengan keluarga
- Langkah berikutnya di Swanvara
Larangan pernikahan adat Jawa yang paling sering ditanyakan menyangkut urutan anak dalam keluarga, dua saudara yang menikah dalam satu tahun, dan arah rumah kedua keluarga. Keluarga yang masih memegangnya jarang membatalkan pernikahan. Biasanya mereka mencari jalan: doa, selamatan, restu sesepuh, atau menggeser tanggal.
Bayangkan Rani dan Bagas sudah sepakat soal tanggal. Lalu di meja makan, ibu Bagas bertanya pelan, "Kamu anak keberapa, Nduk?" Bagas sendiri anak pertama. Rani tahu pertanyaan itu bukan basa-basi. Diam-diam, calon mertuanya sedang menghitung.
Halaman ini membahas tiga kepercayaan itu dengan tenang: dari mana asalnya menurut cerita yang beredar, apa yang biasa dilakukan keluarga, dan bagaimana membicarakannya dengan orang tua. Tulisan ini tidak menertawakan dan tidak menyuruh siapa pun menurutinya. Kepercayaan ini hidup di keluarga, dan jawaban yang paling berhak ada pada orang tua dan sesepuh kalian.
Seberapa mengikat larangan pernikahan adat Jawa?
Tidak ada kitab tunggal yang memuat semuanya. Larangan ini diwariskan lewat cerita orang tua dan kerabat, sehingga namanya, cara menghitungnya, dan jalan keluarnya berbeda antardaerah, bahkan antarkeluarga dalam satu desa. Sumber yang satu bisa menyebut hal yang berlawanan dengan sumber lain.
Karena itu, ada dua pegangan yang aman. Pertama, anggap uraian di sini sebagai pola umum, bukan ketentuan. Kedua, tanyakan ke orang yang dituakan di keluarga masing-masing, dan jangan menebak dari satu artikel.
Satu hal lagi: pasangan yang berbeda suku atau berbeda keluarga sering membawa dua versi sekaligus. Itu wajar, dan biasanya dua keluarga menemukan jalan tengah yang bisa diterima keduanya.
Jilu: anak pertama dengan anak ketiga
Jilu berasal dari siji (satu) dan telu (tiga). Yang dimaksud adalah pasangan yang salah satunya anak pertama dan yang lain anak ketiga. Sebagian orang menyebut kepanjangannya, siji jejer telu, dan cara menyebutnya pun tidak seragam.
Dari mana asalnya, menurut cerita yang beredar
Penjelasan yang paling sering terdengar bersifat hitungan dan lambang, bukan alasan yang bisa diuji. Dalam banyak cerita, rumah tangga pasangan jilu dikhawatirkan sering menghadapi pertengkaran, rezeki yang seret, atau musibah di keluarga. Ada juga yang menjelaskannya lewat urutan lahir dalam keluarga. Karena asalnya berupa cerita turun-temurun, jangan heran kalau dua orang tua menjelaskannya dengan cara yang berbeda.
Anak pertama dengan anak pertama
Pasangan dua anak sulung sering disebut dalam percakapan yang sama, meski tidak selalu dengan nama jilu. Kekhawatirannya biasanya soal sifat: dua orang yang sama-sama terbiasa memimpin dan menanggung adik-adiknya dikhawatirkan sulit saling mengalah. Banyak keluarga justru menganggap dua anak sulung cocok karena sama-sama paham beratnya jadi yang pertama. Jadi, jangan langsung berkecil hati kalau ini disinggung.
Kalau kalian anak pertama, orang tua kalian mungkin juga menggelar bubak kawah, upacara adat untuk pernikahan anak pertama di keluarga. Bahasannya ada di arti bubak kawah dan tumplek punjen.
Yang biasa dilakukan keluarga
- Meminta doa sesepuh. Orang tua atau sesepuh diajak bicara, lalu memberi restu dan doa yang menenangkan semua pihak.
- Mengadakan selamatan atau syukuran kecil. Biasanya sederhana dan dihadiri keluarga inti, sebagai tanda keluarga sudah menanggapi kekhawatiran itu.
- Tidak mempersoalkannya. Ada keluarga yang cukup mendengar kekhawatiran orang tua, lalu tetap melanjutkan dengan restu.
Pilihan mana yang dipakai ditentukan keluarga. Kalian tidak perlu mencari ritualnya sendiri. Tanyakan, "Kalau keluarga kita menghadapi ini dulu, apa yang dilakukan?"
Kakak dan adik menikah dalam satu tahun
Kepercayaan yang satu ini menyangkut waktu, bukan urutan anak. Dua saudara kandung yang menikah dalam satu tahun yang sama dikhawatirkan membawa nasib kurang baik bagi salah satu pihak atau keluarga. Dalam sebagian cerita, kekhawatiran itu dikaitkan dengan peristiwa duka.
Dari mana asalnya, menurut cerita yang beredar
Ada dua penjelasan yang sering muncul. Yang pertama berupa lambang: dua hajat besar bertumpuk di rumah yang sama dianggap terlalu berat untuk satu tahun. Yang kedua bersifat praktis dan lebih mudah diterima: dua pernikahan beruntun menguras tenaga dan biaya keluarga, sehingga jaraknya memang sebaiknya diberi napas. Dua penjelasan itu sering bercampur dalam satu obrolan.
Yang biasa dilakukan keluarga
- Menggeser salah satu tanggal. Pernikahan kedua dipindah ke tahun berikutnya. Patokan tahunnya pun berbeda: ada keluarga yang memakai tahun Masehi, ada yang memakai tahun Jawa atau Hijriah, ada pula yang menghitung dua belas bulan sejak pernikahan pertama.
- Menjaga jarak antarpernikahan. Sebagian keluarga memberi jarak beberapa bulan, bukan tepat satu tahun penuh.
- Meminta petunjuk sesepuh. Sesepuh bisa menyarankan tanggal, doa, atau selamatan khusus.
- Menjalankannya bersama. Ada keluarga yang memilih menggelar dua pernikahan berdekatan sebagai satu rangkaian hajat, lengkap dengan doa bersama.
Kalau adik menikah lebih dulu dan kakak belum punya rencana, itu persoalan lain yang dibahas di adik menikah melangkahi kakak. Halaman itu membahas restu dan pelangkah. Halaman ini hanya soal dua saudara yang tanggalnya berdekatan.
Arah rumah: ngalor-ngulon dan kawan-kawannya
Kepercayaan ketiga menyangkut letak rumah kedua keluarga. Ngalor-ngulon berarti ke arah barat laut (ngalor berarti ke utara, ngulon ke barat). Dalam sebagian keluarga, arah itu dianggap kurang baik jika menjadi arah dari rumah salah satu pihak ke pihak lain. Arah mana yang dihitung, dari rumah siapa, dan dihitung dari titik mana, berbeda-beda dari satu sumber ke sumber lain. Itu sebabnya orang yang pernah mendengarnya sering saling membantah.
Dari mana asalnya, menurut cerita yang beredar
Orang Jawa lama memperhatikan arah mata angin dalam banyak hal, dari letak rumah sampai posisi tempat tidur. Arah dianggap membawa watak. Larangan arah rumah pengantin kemungkinan tumbuh dari kebiasaan itu. Selebihnya, penjelasannya berupa tradisi lisan yang tidak punya satu rumusan baku.
Yang biasa dilakukan keluarga
- Menanyakan sesepuh bagaimana keluarga menghitungnya. Banyak yang ternyata menghitungnya dengan cara yang berbeda dari yang kalian dengar.
- Memakai alamat lain untuk acara. Sebagian keluarga menggelar prosesi dari rumah kerabat yang arahnya lebih aman.
- Mengadakan selamatan. Sama seperti kepercayaan lain, selamatan dan doa menjadi cara menenangkan keluarga.
Soal alamat acara, ingat bahwa tempat yang tertulis di undangan harus jelas bagi tamu, apa pun alasan keluarga memilihnya.
Membicarakannya dengan orang tua
Bagian ini lebih penting daripada hitungannya. Orang tua yang menyinggung larangan hampir selalu sedang menyampaikan rasa sayang dan rasa khawatir, bukan menolak pilihan kalian. Beberapa kalimat berikut bisa dipakai, lalu diubah sesuai suasana keluarga.
Membuka percakapan:
Bapak, Ibu, kami ingin cerita soal rencana kami, dan kami ingin dengar pendapat Bapak dan Ibu dulu sebelum menentukan lebih jauh.
Menanyakan alasan, bukan menyanggah:
Kami ingin mengerti dulu, Bu. Dari mana kepercayaan itu, dan dulu keluarga kita biasanya bagaimana menyikapinya?
Mengajak sesepuh:
Kalau boleh, kami ingin sowan ke Eyang atau Pakde. Kami ingin minta doa dan petunjuk supaya semuanya tenang.
Kalau kalian tetap ingin melanjutkan:
Kami sudah mendengar kekhawatiran Bapak dan Ibu, dan kami menghargainya. Kami tetap ingin melanjutkan, dan kami butuh doa serta restu supaya hari itu berjalan baik.
Ada dua kebiasaan yang membantu. Dengarkan sampai selesai sebelum menjawab, dan jangan membuka dengan "itu kan cuma mitos". Kalimat itu sering menutup percakapan, padahal yang ingin didengar orang tua adalah bahwa kekhawatirannya dianggap serius.
Kalau kepercayaan yang disinggung ternyata soal hitungan tanggal atau bulan, bahasannya ada di bagian hitungan keluarga dalam memilih tanggal pernikahan. Kalau menyangkut pantangan bagi calon pengantin perempuan menjelang hari H, lihat arti pingitan sebelum menikah.
Ringkasan: kepercayaan, isinya, jalan keluarnya
| Kepercayaan | Isinya | Jalan yang umum dipakai | Siapa yang ditanya |
|---|---|---|---|
| Jilu | Pasangan anak pertama dengan anak ketiga dianggap kurang baik | Doa sesepuh, selamatan kecil, atau tidak dipersoalkan | Orang tua dan sesepuh keluarga |
| Anak pertama dengan anak pertama | Dua anak sulung dikhawatirkan sulit saling mengalah | Restu orang tua, penjelasan bahwa kedua pihak saling memahami, atau doa dan selamatan | Orang tua kedua pihak |
| Kakak adik menikah dalam satu tahun | Dua pernikahan saudara kandung dalam satu tahun dianggap kurang baik | Menggeser tanggal, memberi jarak, atau meminta petunjuk sesepuh | Orang tua dan sesepuh yang menghitung |
| Arah rumah (ngalor-ngulon) | Arah barat laut dari rumah satu pihak ke pihak lain dianggap kurang baik | Menanyakan cara hitungnya, memakai alamat acara lain, selamatan | Sesepuh yang paham hitungan arah |
Tabel ini rangkuman pola umum. Hitungannya, istilahnya, dan jalan keluarnya tiap keluarga bisa berbeda, jadi cocokkan dengan keluarga kalian.
Kalau tanggal bergeser setelah bicara dengan keluarga
Pembicaraan seperti ini sering berujung pada tanggal yang berubah. Di Swanvara, form bisa diisi dan di-preview sebelum membayar, dan pembayaran adalah langkah terakhir sebelum undangan terbit. Jadi kalian bisa mengisi dulu sambil menunggu hasil bicara dengan keluarga, lalu menerbitkan setelah tanggalnya pasti.
Kalau undangan sudah terbit lalu tanggal berubah, isinya tetap bisa diedit dan link-nya sama. Tamu yang membuka link lama melihat versi terbaru. Kalau ada yang sudah memasukkan tanggal lama ke kalender, kabari mereka lewat pesan, karena Swanvara tidak mengirim pembaruan otomatis ke tamu.
Untuk kakak dan adik yang menikah di tahun yang sama atau berdekatan, tiap pernikahan memakai undangan sendiri, dengan form, tamu, dan pembayaran sendiri. Harganya ada di halaman harga, dan kalian bisa memilih tampilan lewat galeri template.
Langkah berikutnya di Swanvara
- Bicarakan dulu dengan orang tua dan sesepuh sampai ada arah tanggal yang disepakati. Tidak perlu terburu-buru.
- Buka galeri template dan pilih tampilan yang cocok dengan suasana keluarga kalian.
- Isi form: nama kedua mempelai, tanggal, tempat, foto, dan foto cover. Kalian bisa melihat preview-nya dulu sebelum membayar.
- Bayar saat sudah yakin untuk menerbitkan: Lite Rp 99rb, Pro Rp 199rb, atau Max Rp 349rb, sekali per undangan.
- Tambahkan tamu di dashboard, lalu kirim link pribadi ke tiap tamu lewat tombol Kirim via WhatsApp. Pesannya sudah terisi, dan kalian yang menekan kirim.
Kepercayaan yang diwariskan orang tua tidak perlu dilawan, dan tidak perlu juga menguasai keputusan kalian. Dengarkan, cari jalan yang disepakati bersama, lalu mulai menyiapkan undangannya dengan hati yang lebih tenang.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Apa saja larangan pernikahan adat Jawa yang paling terkenal?
- Tiga yang paling sering ditanyakan: pasangan anak pertama dengan anak ketiga yang disebut jilu (dan sebagian keluarga juga mempersoalkan anak pertama dengan anak pertama), dua saudara kandung yang menikah dalam satu tahun, dan arah rumah kedua keluarga, misalnya yang disebut ngalor-ngulon. Semuanya kepercayaan keluarga, bukan aturan yang dijaga lembaga mana pun, dan isinya berbeda dari satu keluarga ke keluarga lain.
- Apa itu jilu dalam pernikahan Jawa?
- Jilu singkatan dari siji (satu) dan telu (tiga). Yang dimaksud adalah pasangan yang salah satunya anak pertama dan yang lain anak ketiga. Sebagian keluarga menganggapnya kurang baik, sebagian tidak mempersoalkannya. Keluarga yang memegangnya biasanya mencari jalan lewat doa, selamatan, atau restu sesepuh, bukan membatalkan rencana.
- Bolehkah anak pertama menikah dengan anak pertama?
- Dalam kepercayaan sebagian keluarga Jawa, pertemuan dua anak sulung dikhawatirkan membuat keduanya sama-sama merasa harus memimpin dan sulit mengalah. Banyak keluarga tidak mempersoalkannya sama sekali. Kalau orang tua kalian menyinggungnya, tanyakan alasannya dan apa yang biasa dilakukan keluarga untuk menyikapinya.
- Bolehkah kakak dan adik menikah dalam satu tahun yang sama?
- Dalam kepercayaan sebagian keluarga Jawa, dua pernikahan saudara kandung dalam satu tahun dianggap kurang baik. Karena itu, ada keluarga yang menggeser salah satu tanggal, menjaga jarak waktu yang cukup, atau meminta doa dan petunjuk sesepuh. Keputusan akhirnya ada pada kedua keluarga. Di Swanvara, tiap pernikahan memakai undangan sendiri.
- Kalau keluarga masih memegang larangan ini, apa yang sebaiknya dilakukan?
- Dengarkan alasannya lebih dulu, lalu tanyakan jalan keluar yang biasa dipakai keluarga: ritual, doa, restu sesepuh, atau menggeser tanggal. Sampaikan rencana kalian dengan hormat, bukan sebagai keputusan yang sudah selesai. Kalau tanggal akhirnya berubah, undangan di Swanvara bisa diedit dan link-nya tetap sama.
Baca juga
Etiket
Adik Menikah Duluan Melangkahi Kakak: Restu, Pelangkah, dan Cara Membicarakannya
Adik menikah duluan melangkahi kakak: cara meminta restu, isi pelangkah dalam adat Jawa dan Betawi, kalimat yang tidak melukai, dan nama kakak di undangan.
Etiket
Arti Bubak Kawah dan Tumplek Punjen: Ritual Anak Pertama dan Anak Terakhir yang Menikah
Arti bubak kawah dan tumplek punjen: ritual Jawa saat anak pertama dan anak terakhir menikah, siapa yang terlibat, dan perlukah ditulis di undangan.
Etiket
Arti Rewang, Sinoman, dan Buwuh di Hajatan Jawa, dan Bedanya dengan Amplop di Kota
Arti rewang, sinoman, dan buwuh di hajatan Jawa, siapa mengerjakan apa, kenapa sumbangan dicatat, dan cara tamu kota maupun pengantin menyikapinya.